Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Untar untuk Indonesia
Akademisi

Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Tingkatkan Rasa Syukur, Hilangkan Rasa Ketidakberdayaan, Atasi Distress

Kompas.com - 03/03/2023, 07:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Namun ada banyak kondisi di mana individu harus hidup dalam berbagai keterbatasan dan pada waktu bersamaan dituntut untuk secepatnya berdaya. Kondisi ini amat berpotensi menimbulkan distress.

Pada salah satu penelitian (Mason, 2019) didapati bahwa distress berkorelasi negatif sebesar hampir 40 persen dengan kebersyukuran (gratitude); artinya, rasa kurang bersyukur memberikan sumbangan sekitar hampir 40 persen atas hadirnya pengalaman distress.

Tidak mensyukuri sesuatu memang tidak serta merta menimbulkan distress, tapi jika individu kurang mensyukuri kehidupannya, distress yang dialami cenderung lebih membebani.

Sementara itu pada penelitian sebelumnya (Kisa dkk, 2018) didapati adanya korelasi positif sebesar lebih dari 50 persen antara distress dan ketidakberdayaan (hopelessless, hilang harapan).

Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman distress itu terkait dengan rasa ketidakberdayaan sebesar lebih dari 50 persen. Jadi, semakin orang merasa tidak berdaya semakin besar peluangnya ia mengalami distress.

Mendapati adanya hasil kajian tersebut di atas kiranya kita dapat memperoleh gambaran bahwa di satu pihak kondisi distress relatif selaras dengan adanya rasa ketidakberdayaan dan di lain pihak kondisi ini seringkali disertai oleh adanya rasa tidak bersyukur (non-gratitude) atau minimal kurang bersyukur (lack of gratititude).

Dalam dunia kemahasiswaan relatif sering bahkan mungkin rutin kita dapati mahasiswa mengalami beban akademis akibat berbagai alasan.

Stress akademis (academic stress) tentunya merupakan salah satu tantangan pelajar yang tak terpisahkan dalam menjalani pendidikan.

Stress akademis ini mencakup berbagai hal terkait dengan tuntutan prestasi akademis dari kewajiban hadir kuliah hingga penyelesaikan karya tulis.

Di samping itu ada juga stress kehidupan sehari-hari (daily hassle stress) yang mencakup banyak hal termasuk keterbatasan tempat tinggal, tantangan transportasi dan kebutuhan makan serta tantangan masalah hubungan interpersonal.

Mahasiswa sering mengeluh tentang masalah-masalah yang menimbulkan distress dan sebaliknya kurang mensyukuri bahwa melalui proses pendidikan mereka justru berpeluang untuk meningkatkan taraf kehidupan di masa depan.

Melalui proses mengatasi tantangan inilah mereka akan menjadi lebih berdaya ketika kelak harus berhadapan dengan kondisi serupa di kemudian hari.

Ketidakberdayaan terkait dengan kondisi hilang harapan (hopelessness); artinya individu merasa tidak berdaya karena menganggap usaha akan sia-sia tidak membuahkan hasil.

Akibatnya, individu akan hilang motivasi untuk mengupayakan lebih lanjut karena menganggap akan membuang energi.

Kondisi ini dipengaruhi oleh pola pikir negatif ke masa depan yang mungkin dipengaruhi oleh pengalaman kegagalan di masa lampau.

Rasa tidak mampu sesungguhnya dapat diatasi dengan belajar lebih lanjut untuk meningkatkan kemampuan; rasa tak berdaya dapat diatasi dengan adanya dukungan sosial dan membangun niat lebih baik agar lebih berdaya.

Namun, pandangan akan ketidakmungkinan membutuhkan perubahan persepsi atas adanya atau tersedianya peluang jika didahului dengan usaha. Sebaliknya, jika ketidakmungkinan telah menjadi keyakinan kokoh (set), maka usaha pasti terhenti.

Kebersyukuran (gratitude) merupakan bentuk apresiasi atas hal yang kita miliki seperti mensyukuri memiliki tempat bernaung, mensyukuri memiliki sahabat, mensyukuri berkesempatan mengikuti pendidikan tertentu bahkan mensyukuri beroleh napas kehidupan, kemampuan berpikir dan merasa.

Pengukuran rasa syukur ini dapat ditelaah melalui frekuensi (seberapa sering), intensitas (seberapa kuat), densitas (seberapa padat) dan durasi (seberapa lama).

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com