J&C, Kue Kering yang Makin Menjadi

Kompas.com - 29/05/2008, 18:39 WIB
Editor

Jadi pengusaha kue kering yang produknya dijual di berbagai kota di Indonesia tak pernah terbayang dalam benak Diah Susilawati. Sarjana lulusan Fakultas Sosial Politik jurusan Administrasi Negara di Universitas Parahyangan Bandung ini, mulanya bahkan tak bisa membuat kue kering.

Lebih dari 12 tahun silam, sambil menunggu suaminya pulang kantor, ia iseng belajar membuat kue kering secara otodidak, antara lain lewat buku. Terkadang ia sukses, kadang kue buatannya gagal. Lama-kelamaan, ia makin mahir dan kue buatannya pun makin banyak.   

Daripada menumpuk di rumah, Diah lalu menawarkan kue keringnya ke tetangga. Ternyata mereka menyukainya. Pesanan mulai berdatangan, terutama saat Lebaran. Bahkan, makin lama makin banyak pesanan setiap hari raya ini tiba. Tak hanya itu, beberapa orang bahkan mulai menawarkan diri untuk menjualkan kue kering Diah. Sejak itulah, Diah mempunyai agen untuk kue keringnya.

Tahun 1996, wanita berjilbab ini mulai serius menekuni bisnis ini. Selain memberinya nama Joyci (singkatan dari Jody dan Cindy, nama kedua anaknya), Diah juga mengurus izin ke Departemen Kesehatan. Namun, kini merek Joyci diganti menjadi J&C, karena saat akan dipatenkan tahun 2003, ternyata nama itu sudah terdaftar. Lalu, suami Diah, Dedi Hidayat, yang saat itu bekerja di sebuah perusahaan konsultan minyak, memilih keluar dari pekerjaannya untuk membantu bisnis istrinya di bidang pemasaran.

Rajin ikut pameran merupakan salah satu cara yang dilakukan Diah agar kuenya tetap diingat orang. Maklum, J&C memang hanya dibuat menjelang Lebaran. Meski dibuat hanya selama 3 bulan saja, Diah mengaku hasil penjualannya bisa untuk menghidupi keluarganya selama setahun. "Namun, sekarang kami memiliki beberapa outlet di Jakarta dan Bandung, agar orang tetap ingat terus pada J&C," ujar Diah sambil menambahkan, usaha musiman ini tetap bertahan saat krismon melanda. "Orang kan, tetap butuh kue saat Lebaran."

Usaha yang ditekuni dari Bandung sejak awal hingga sekarang ini tak sia-sia. Biasanya, dua bulan sebelum Lebaran mulai ramai pesanan. Kalau pada awal berbisnis dulu dalam sehari ia paling-paling menjual dua lusin kue per hari, kini bertambah menjadi 150 lusin.

Kalau tahun lalu J&C diproduksi 16 ribu lusin selama musim Lebaran (ditambah Natal dan Imlek, tapi produksinya tak sebesar Lebaran), tahun ini meningkat menjadi 20 ribu lusin. Jumlah karyawannya pun bertambah. Kalau pada awalnya Diah membuat kue keringnya sendirian (terkadang dibantu suaminya sambil menonton teve pada malam hari), pesanan yang tiap tahun rata-rata meningkat 20 persen dari tahun sebelumnya membuatnya kini dibantu 200 karyawan.

Selain itu, kini Diah memiliki sekitar 700-800 agen yang siap memasarkan kue keringnya. J&C kini dikirim ke berbagai daerah di Indonesia, antara lain Jakarta, Palembang, Jambi, Maluku dan Irian. Bahkan, sejak 2004, J&C merambah ke Singapura. "Setiap menjelang Natal, ada pesanan dari sana, biasanya seribu lusin," ujar Diah yang kini menjual 50 jenis kue.    

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.