Kompas.com - 06/05/2013, 15:37 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - "Telecommuting" atau bekerja secara online merupakan sebuah tren bekerja yang banyak digandrungi pekerja. Dhyoti Rororasmi Basuki, Head of Public Relations Intel Indonesia mengungkapkan, cara bekerja ini sangat disukai karena bisa membantu menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Selain itu, sistem telecommuting juga bisa membuat ritme bekerja jadi lebih fleksibel.

Di kebanyakan negara berkembang, telecommuting menjadi tren baru di dunia kerja. Menurut survei yang dilakukan Ipsos (lembaga penelitian) di berbagai negara, pekerja yang sudah mengaplikasikan telecommuting di Timur Tengah dan Afrika berkisar 27 persen, Amerika Latin (25 persen), Asia Pasifik (24 persen), dan Eropa (9 persen).

"Indonesia sendiri, telah berkembang menjadi negara kedua terbesar setelah India (56 persen) dalam hal telecommuting. Karena sekitar 34 persen jumlah pekerja di Indonesia sudah mengadaptasi cara bekerja online ini," jelas Dhyoti.

Meski sudah banyak perusahaan yang mengadaptasi cara bekerja online di Indonesia, namun masih ada hambatan yang dihadapi untuk menerapkan sistem bekerja ini.

1. "Company culture"
"Tidak semua perusahaan dan bidang pekerjaan bisa menjalankan gaya bekerja ini. Ada beberapa perusahaan yang tidak membolehkan karyawannya untuk bekerja di tempat lain selain kantor," jelasnya. Selain itu, ada beberapa perusahaan yang tidak mau mengadaptasi teknologi ini dengan berbagai alasan, misalnya menyulitkan kontrol pekerja dan mengurangi produktivitas kerja.

Namun, ada beberapa perusahaan yang mau mencoba menerapkan teknologi sebagai cara untuk memajukan produktivitas pekerjanya dengan memberi mereka cara mengatur waktu kerja dengan lebih fleksibel.

2. Mental pekerja
Selain faktor perangkat teknologi yang mendukung untuk online, mental yang bertanggung jawab juga harus dimiliki pekerja untuk bisa bekerja secara online.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Perusahaan yang mengadaptasi gaya bekerja seperti ini bisa diartikan bahwa mereka memberi kepercayaan penuh pada karyawannya saat bekerja. Maka, sudah seharusnya jika pekerja lebih bertanggung jawab dan lebih produktif ketika mereka dipersilakan untuk bisa bekerja di luar kantor," paparnya.

Sayangnya, tak semua orang bisa memikul tanggung jawab ini dengan baik. Memang ada beberapa orang yang tidak bisa memegang kepercayaan kantor dan cenderung bekerja seenaknya karena tidak dikontrol atasannya secara langsung. Penyebab lainnya, mereka kurang berdisiplin dengan jam kerja yang diaturnya sendiri di rumah karena perhatiannya tersita pada urusan pribadinya.

Inilah yang akhirnya menyebabkan banyak perusahaan memutuskan untuk tidak menggunakan sistem online ini lagi, dan kembali ke company culture yang lama.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.