Kompas.com - 31/07/2013, 15:08 WIB
Harga kebutuhan pokok yang melonjak tinggi membuat kaum perempuan kelimpungan mengatur uang belanja. SHUTTERSTOCKHarga kebutuhan pokok yang melonjak tinggi membuat kaum perempuan kelimpungan mengatur uang belanja.
EditorFelicitas Harmandini
KOMPAS.com - ”Pusiiiiiiiing. Kepala serasa mau pecah mikirin pengeluaran yang gila-gilaan bulan ini,” ujar Ika (31), ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan Sawangan, Depok, Jawa Barat, Kamis (25/7/2013) lalu.

Bayangkan, bulan ini Ika harus mengeluarkan uang besar untuk biaya sekolah dua anaknya, harus menyisihkan uang untuk mudik ke Lampung, dan mengalokasikan uang untuk biaya Lebaran. Pada saat yang sama, harga kebutuhan pokok, mulai dari daging, telur, ayam, bawang, cabai, dan sayur-mayur, naik tidak karuan menyusul naiknya harga bahan bakar minyak.

Tidak berhenti di situ, ia harus menanggung penaikan ongkos antarjemput anak sekolah, membayar aneka THR untuk satpam perumahan dan guru sekolah, mengeluarkan uang untuk berbagai acara buka bersama, dan sederet pengeluaran lainnya.

”Kalau dibikin catatan, daftar pengeluaran yang sifatnya dadakan saja bisa panjang sekali,” tambah Ika yang pengeluaran rutin per bulannya sekitar Rp 6 juta, di luar angsuran rumah.

Sebenarnya, pembengkakan pengeluaran selama bulan puasa dan menjelang Lebaran sudah ia antisipasi jauh-jauh hari. Namun, perhitungannya tahun ini benar-benar amburadul lantaran harga kebutuhan pokok melonjak tinggi. Ia mencontohkan, belanja bulanannya rata-rata di bawah Rp 1 juta.

Di bulan puasa ini, ia menambah anggaran belanja menjadi Rp 1 juta. Namun, kenaikan harga-harga yang sangat tinggi membuat pengeluaran belanja bulanannya membengkak jadi Rp 1,5 juta.

Uang belanja harian yang biasanya Rp 100.000 untuk tiga hari, lanjut Ika, ia prediksi hanya cukup untuk dua hari di bulan puasa. ”Kenyataannya uang segitu habis untuk belanja sehari. Bayangkan saja, harga daging naik 30 persen, cabai dan bawang naik 100 persen, sayur-mayur naik 15 persen. Yang turun ongkos kereta rel listrik doang,” tutur Ika setengah berteriak.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Banjir sumbangan
Nana (31), ibu rumah tangga di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, juga dipusingkan berbagai pengeluaran dadakan di luar pengeluaran rutin. Sebulan terakhir ini, katanya, aneka proposal dan edaran datang silih berganti. Isinya nyaris sama, yakni permintaan sumbangan untuk aneka kegiatan Ramadhan, sumbangan untuk acara buka puasa bersama, iuran THR satpam perumahan, iuran untuk biaya penambahan satpam selama musim mudik Lebaran, dan iuran untuk THR guru.

”Kalau dihitung-hitung setiap hari bisa mengeluarkan uang Rp 100.000 untuk iuran ini-itu. Belum lagi ada orang yang datang pinjam uang Rp 1 juta-Rp 2 juta. Semua itu di luar perhitungan,” katanya.

Tahun lalu, ia hanya mengeluarkan THR untuk pembantu rumah tangga, tukang ojek langganan, THR satpam, dan menyumbang satu-dua acara pesantren kilat. Tidak ada pengeluaran untuk THR guru, acara buka puasa bersama, dan uang jemputan mobil untuk mengantar anak ke sekolah lantaran anaknya waktu itu belum sekolah.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.