Kompas.com - 20/10/2013, 13:03 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi
EditorSyafrina Syaaf

KOMPAS.com — Beberapa hari yang lalu, lagi-lagi ibu Ani Yudhoyono menjadi bahan perbincangan di ranah jejaring sosial. Lewat akun Instagram bernama @aniyudhoyono, Ibu Ani membalas komentar salah satu follower lewat akun bernama @erie­_nya, dengan sebutan “sangat bodoh”. Ternyata, penggunaan sebutan "bodoh" itu mengundang respons keberatan dari follower lainnya.

Kejadian tersebut kembali mengingatkan kita untuk jangan pernah menggunakan kata atau sebutan negatif terhadap sesama, terutama pada anak. Sebab, dengan rutinitas yang padat, bukan tidak mungkin seorang ibu jadi mudah "tercongkel" amarahnya menghadapi anak yang sedang berulah atau melakukan kesalahan.

Karena, perkataan orangtua memiliki makna yang dalam pada anak, dan berpotensi meninggalkan kesan buruk terhadap diri mereka. Apabila orangtua tanpa sengaja melontarkan kata "bodoh" pada anak, jangan malu atau gengsi untuk segera meminta maaf pada anak.

“Mengucapkan perkataan yang menyakitan pada anak, pertanda kurang bijaknya kita dalam me-manage emosi diri. Selain itu, apa yang Anda ucapkan, itulah yang akan didapatkan. Jadi berhati-hatilah saat menggunakan kata negatif pada anak. Seseorang yang berkata menyakitkan, sebenarnya perkataan itu juga menyakiti diri mereka sendiri,’’ jelas Ainy Fauziyah, CPC, Leadership Coach & Motivator, penulis buku laris Dahsyatnya Kemauan.  

Lima orang ibu Indonesia memiliki pandangan yang sama dengan pernyataan di atas. Bagi mereka, melontarkan sebutan negatif akan merugikan tumbuh kembang anak. Mengapa? Karena apa pun yang disampaikan oleh ibu sebagai figur otoritas, anak akan menyerapnya sebagai kebenaran.

“Saya tidak mungkinlah sebut anak sendiri bodoh. Bagi seorang ibu, anaknya adalah yang paling hebat. Jadi kalaupun misalnya si anak buat salah, pasti ibunya juga salah mengajarnya. Jadi, bukan karena si anak bodoh’’ – Kerry Nurakhmah, 30 tahun, enterpreneur.

“Saat berkomunikasi dengan anak, saya tidak pernah menggunakan kata ‘bodoh’, sebisa mungkin saya hindari. Karena, kata tersebut memiliki makna yang negatif, dan saya tidak mau itu tertanam di pikiran dan perilaku anak. Misalkan dua putri saya sedang khilaf melakukan kesalahan, saya menanggapinya dengan bertanya, bukan dengan memberikan label buruk pada mereka” - Masfilianda, 30 tahun, ibu rumah tangga.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Aku rasa nggak ada yah seorang ibu yang tega untuk berkata kasar atau tak baik kepada anaknya. Kalau aku sendiri, tidak akan pernah menyebut anak bodoh. Karena ketika anak melakukan sesuatu lalu berakhir salah, itu artinya ia sedang mencoba dan belajar. Anak yang pintar itu adalah anak yang tidak takut mencoba. Perkara ia gagal atau berhasil, orangtua harus menghargai usahanya’’ – Astri, 26 tahun, ibu rumah tangga.

“Saya sih tidak bakalan gunain kata bodoh pada putra saya. Kenapa? Karena saya nggak mau anak melihat saya sebagai sosok yang kasar dan jahat, lalu saya juga nggak mau dia berpikir kalau dia bodoh. Nah, melihat ibunya begitu mudah menyebut kata-kata kasar, nanti anak menirunya ke orang lain, yang malu pasti si ibu sendiri. Buat saya anak nggak ada yang bodoh, gimana orangtua mengasuhnya aja’’ – Dhita, 30 tahun, karyawan swasta.

“Menggunakan kata-kata negatif pada anak adalah BIG NO buatku. Misalkan lagi marah sama anak, aku anti menggunakan kata-kata yang akan membuat emosinya tertekan. Dan kata ‘bodoh’ memberikan efek seperti itu pada anak. Biasanya aku ganti dengan yang lebih halus, seperti ‘nggak pinter’, jawaban anakku pasti ‘aku maunya pinter mami’. Nah, baru deh aku kasih tau, kalau mau pintar harus nurut mami, hehehe... “ – Fitriana, 30 tahun, ibu rumah tangga. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.