Kompas.com - 22/10/2013, 12:21 WIB
EditorSyafrina Syaaf

KOMPAS.com — Bagi dua perempuan ini, Emer O’Toole dan Paloma Goni, kewajiban mencukur buku ketiak adalah pemasungan terhadap hak-hak asasi perempuan. Tak hanya itu, menurut mereka ritual perawatan membersihkan tubuh dari bulu, mencerminkan degradasi dari misi emansipasi.

Masih ingatkah Anda pada salah satu adegan Eva Arnas mengenakan kaus tanpa lengan, dan memperlihatkan ketiaknya yang ramai dengan bulu ketiak? Mungkin di zaman dulu, ketiak berbulu merefleksikan sensualitas perempuan. Tapi, sekarang tren tersebut malah menjadi lelucon.

Meskipun begitu, kedua perempuan dari benua Eropa berikut ini tidak mau terjebak pada rotasi pencitraan perempuan cantik, yang menurut pandangan mereka merupakan pilihan hidup yang dangkal.

Walau memiliki bulu ketiak yang "rimbun", Emer O’Toole, jurnalis dari Irlandia yang berusia 29 tahun, tetap percaya diri dan tidak malu mengakui bahwa sudah menahun tidak mencukur bulu ketiaknya.

Menurutnya, seperti yang dikutip dari laman The Guardian, sewaktu remaja dulu bersama dengan teman sebaya lainnya, mereka mengikuti tren mencukur bulu ketiak sampai mulus agar dinilai cantik.

Namun, seiring dengan waktu, O’Toole mulai "gerah" dengan peraturan tidak tertulis bagi perempuan tersebut. Baginya selain merepotkan, ritual mencukur atau waxing hanya buang-buang waktu dan melelahkan. Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti mencukur selama 18 bulan. Alhasil, area ketiak O’Toole menyerupai semak-semak yang tumbuh merambat.

Hingga kini, perempuan bertubuh mungil ini tetap konsisten mempertahankan bulu ketiaknya yang lebat. Meskipun orang-orang di sekelilingnya mengaku risih, O’Toole tidak menghiraukannya.

Prinsip mempertahankan bulu ketiak sebagai aksi emansipasi juga diikuti oleh Paloma Goni, seorang bloger perempuan yang berasal dari Spanyol. Ia menolak mencukur bulu ketiak dan kakinya, dengan alasan hanya buang-buang waktu saja.

Saat remaja dulu, Goni memiliki tubuh yang mulus dan terbebas dari bulu-bulu "nakal". Namun, setelah beranjak dewasa, ia merasa tersiksa untuk melakukan ritual tersebut secara rutin. Keputusannya untuk stop mencukur sebenarnya terinspirasi dari O’Toole.

“Saya membaca soal perempuan dari Irlandia bernama Emer O’Toole, dia dengan berani memamerkan ketiaknya yang berbulu kepada publik, dalam sebuah acara talkshow di televisi. Melihat itu, saya mendapatkan pencerahan dan merasa ini jawaban dari siksaan yang saya jalani tiap minggu,’’ ujar Goni seperti yang dikutip dari laman The Huffington Post.

Untuk menyempurnakan idealismenya, Goni pun bergabung pada komunitas feminis yang memilki pemikiran sama dengannya. Informasi mengenai komunitas tersebut, ia dapatkan lewat riset dan penelusuran di internet serta jejaring sosial. Lewat komunitasnya ini, Goni ingin menyuarakan bahwa memiliki bulu ketiak bukanlah hal yang tabu.

Selain itu, ia juga ingin menyampaikan bahwa setiap perempuan memiliki hak untuk tampil apa adanya, sama seperti kaum pria yang bebas memiliki jenggot serta bulu di kaki dan tangan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.