Kompas.com - 09/12/2013, 17:40 WIB
|
EditorLusia Kus Anna
KOMPAS.com - Mendidik anak untuk jadi disiplin tak berarti Anda harus jadi otoriter dan galak. Mendisiplinkan anak juga bisa dilakukan dengan cara yang penuh cinta. Hanya saja, sering kali saat Anda "lunak" terhadap anak, mereka bisa saja bertingkah dan banyak ulah. Akibatnya, emosi Anda pun meledak.

Dr Kelly Flanagan, seorang psikolog klinis, mengungkapkan, sebenarnya setiap orangtua punya kemampuan untuk mendisiplinkan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang, tanpa harus marah-marah.

Flanagan mengungkapkan, salah satu kesalahan yang sering dilakukan orangtua adalah mereka kurang memiliki empati terhadap anak-anaknya. Padahal, kunci utama untuk mendisiplinkan anak dengan cinta adalah masuk ke dalam dunia anak-anak.

"Banyak orangtua yang lupa bagaimana rasanya menjadi anak kecil. Anda lupa bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak punya kekuatan apa pun, punya kehidupan yang selalu diatur setiap hari, dan kehilangan semua kesenangan karena dilarang orangtua. Kita lupa semua itu dan hanya fokus pada kesalahan anak," jelas Flanagan.

Ia menambahkan bahwa ketika orangtua tidak bisa mencari dan menemukan empati terhadap anak-anak di hati kecilnya, maka Anda melepaskan peran sebagai pemimpin keluarga. Jika ingin memimpin dan mendidik anak-anak dengan baik, maka pertama-tama Anda harus menemukan sisi anak-anak dalam diri sendiri. Bagaimana Anda bisa melakukannya?

1. Bertanya
Alih-alih mendikte anak-anak untuk melakukan sesuatu, sebaiknya bertanyalah kepada mereka. Misalnya, bertanya tentang apa yang mereka ingin lakukan, atau mengapa mereka melakukan hal yang salah. Ajak mereka duduk bersama sambil menikmati camilan atau minuman hangat. Dengarkan apa keinginan mereka, dan jika menemukan pertentangan, bicarakan dengan kepala dingin.

2. Mengingat
Sebagai orang dewasa, Anda sudah pasti pernah menjadi anak kecil. Temukan kembali memori dan sisi anak-anak dalam diri Anda. Hal ini tak berarti memori situasi yang sama, tapi pengalaman dari perasaan yang sama. Jangan mencoba lari dari perasaan ini. Ingatlah bagaimana saat itu orangtua Anda mengatasi masalah ini dan Anda bisa mencontohnya.

3. Rasakan metode pengasuhan yang Anda terapkan
Cobalah untuk mencari tahu bagaimana rasanya diasuh dengan cara asuh Anda dan pasangan. Tempatkan posisi Anda sebagai anak-anak, dan pasangan sebagai "orangtua" Anda. Lakukan beberapa kesalahan yang sering dilakukan anak dan beri hukuman sesuai aturan Anda. Dengan demikian, Anda jadi tahu bagaimana rasanya berada di posisi anak-anak Anda.

4. Bermain dengan anak
Ini adalah bagian yang sangat menyenangkan. Sibukkan diri Anda dan dekatkan diri dengan anak-anak lewat aneka permainan anak. Ingatlah bagaimana rasanya bermain bebas. Santai dan nikmati semua permainan agar bisa mengerti isi pikiran anak.

Namun, apakah semua ini berarti Anda bisa membiarkan anak-anak melakukan apa pun yang mereka inginkan? Tentu tidak, tapi ini berarti bahwa ketika Anda melarang, menetapkan batas tertentu atau sampai menghukum anak atas kesalahannya, Anda melakukannya dengan pikiran yang jernih, memahami kondisi anak, dan empati.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.