Kompas.com - 21/12/2013, 08:57 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com – Setiap pasangan yang sudah menikah tentu berharap rumah tangga mereka segera diramaikan dengan kehadiran anak. Tetapi jika kehamilan yang dinanti tak kunjung tiba, jangan pernah bosan berusaha dan carilah "pelarian" secara positif.

Seorang perempuan muda berusia 32 tahun yang tinggal di sebuah kota di Jawa Barat dalam rubrik konsultasi psikologi mengeluhkan kegelisahannya karena orangtua dan mertuanya terus menuntut kelahiran anak sesegera mungkin. Karena kesal, ia akhirnya malah kerap menghindar dari pertemuan keluarga.

"Mengapa sih, orang-orang selalu usil. Dulu waktu pacaran selalu pertanyaannya kapan menikah. Sekarang kapan hamil, nanti kalau sudah punya anak, pasti tanyanya kapan adiknya lahir. Mengapa selalu perempuan yang disalahkan atau dicecar bila tak juga hamil?," tanyanya.

Hal serupa juga dirasakan Saptiana Dwi atau biasa disapa Ana (33). Di tahun ketiga pernikahannya, belum juga ada tanda-tanda hamil yang dialaminya. Padahal Ana dan suami berharap segera hamil setelah menikah.

"Semua cara sudah kami lakukan, mulai dari medis sampai makan buah kurma muda dan kurma nabi. Suami juga melakukan pemeriksaan dokter dan kami dinyatakan sehat dan tak ada masalah, termasuk secara hormon normal," papar Ana.

Meski Ana dan suami sudah merasa pasrah dengan rencana Tuhan, tapi mereka kerap lelah dengan pertanyaan orang di sekitarnya mengapa ia belum hamil juga. "Biasanya saya menghindari acara kumpul keluarga pasti pertanyaan kapan hamil akan selalu muncul. Apalagi kalau ada yang bilang kami kurang berusaha. Mereka tidak tahu bagaimana upaya yang sudah kami coba," kata karyawan di sebuah bank daerah ini.

Perasaan tertekan karena "ikut campurnya" orang lain dalam kehidupan kita memang bisa menimbulkan dampak negatif. Padahal, pasangan yang ingin segera hamil seharusnya berada dalam kondisi psikologi yang rileks

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Walau pasangan merasa cuek dengan pertanyaan yang sering dilontarkan oleh lingkungan sekitar, secara tidak sadar jiwa mereka pasti tertekan. Akibatnya, karena ingin buru-buru punya anak, alhasil hubungan seks yang dilakukan pun tidak indah dan dapat berdampak negatif pada fisik,” kata psikolog Frederick Dermawan Purba.

Frederick menyarankan, jika upaya medis sudah dilakukan tapi belum membuahkan hasil, tak ada salahnya bagi pasangan untuk mempertimbangkan jalan lain seperti adopsi atau program bayi tabung.

“Tapi bila pasangan merasa belum perlu melakukan program bayi tabung atau adopsi, ada cara lain yaitu dengan memperbanyak menghabiskan waktu khusus berdua. Dengan tujuan agar dapat saling menguatkan perasaan, makin mesra, dan mengalihkan pikiran dari stres karena belum punya anak,” katanya.

"Pelarian" positif lain yang dapat dilakukan adalah menyalurkan kasih sayang kepada keponakan, mengikuti kegiatan hobi yang menyenangkan dan membuat tenang, atau menjadi lebih rajin berolahraga sehingga tubuh lebih bugar.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.