Kompas.com - 13/06/2014, 11:33 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
EditorWardah Fajri
KOMPAS.com - Saat sedang sibuk dengan setumpuk berkas, maraton meeting, hingga evaluasi akhir tahun, rasanya “terbebas” dari pekerjaan dan semua tuntutannya merupakan jalan keluar dari semua kegalauan.

Berbagai alasan pun dibuat dalam bentuk daftar hingga Anda yakin benar bahwa berhenti bekerja  adalah solusi terbaik. Ingin memiliki waktu lebih banyak dengan anak-anak, mengurus orangtua, atau memulai bisnis sendiri. Rasa bangga dan eksistensi diri sebagai perempuan berkarier yang menerima pendapatan pribadi setiap bulan pun rela diabaikan.

Namun, saat sudah tak bekerja, ternyata tetap saja membuat galau.  Memang benar bahwa setiap keputusan pasti memiliki konsekuensi, termasuk rasa bosan usai berhenti bekerja. Terpenting adalah cara menyiapkan mental dalam menghadapi masa-masa transisi dari lingkungan kerja ke dunia rumah tangga.

Malah Stres
Tak dipungkiri, lingkup dunia rumah tangga jauh lebih kecil dibandingkan dengan dunia bekerja. Ketika bekerja, Anda bertemu dengan banyak orang dari beragam latar belakang. Tantangan dan experience yang ditemui berbeda-beda setiap harinya.

Sementara di rumah, 24 jam waktu Anda dihabiskan untuk berinteraksi dengan anak, suami, asisten rumah tangga, atau tetangga. Aktivitas sehari-hari adalah mendengar tangis anak yang tak berkesudahan, mengerjakan pekerjaan rumah yang menumpuk, hingga menghadapi Si Mbak yang bikin ulah.

Perubahan hidup yang drastis ini bisa membuat sebagian perempuan kebingungan, hingga memengaruhi aspek fisik maupun emosinya. Sebutlah merasa sendirian dan stres, bahkan hingga mengalami rambut rontok. Bisa jadi, nafsu makan pun menjadi tak terkendali dan sering membandingkan diri dengan orang lain.

Perempuan yang baru berhenti bekerja pun biasanya menjadi lebih mudah cemas dan minder dengan lingkup pergaulannya yang menyempit.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mudah Marah
Selain pergolakan dengan diri sendiri, hubungan keluarga juga tak mustahil terganggu. Anda jadi sering memarahi anak karena tidak sabar, bertengkar dengan pasangan karena hal-hal kecil, bahkan hingga stres memikirkan keuangan keluarga yang sangat menyita pikiran.

Nah, untuk masalah yang terakhir, penting dipahami bahwa persiapan keuangan harus dikondisikan jauh hari sebelum Anda memutuskan berhenti bekerja.

Caranya? Hitung kemampuan finansial Anda dan suami. Jika penghasilan suami belum menutup 100 persen kebutuhan rumah tangga, jangan terburu-buru berhenti bekerja  kecuali memiliki bisnis atau penghasilan tambahan.

Menghadapi segala tekanan itu, cobalah berpikir lebih jernih dan persiapkan mental lebih kuat. Ingat-ingat mengenai tujuan awal Anda berhenti bekerja. Toh, segala keputusan pasti memiliki kelebihan dan risikonya sendiri.

Dengan melepaskan diri dari status karyawan, Anda bisa memiliki kendali penuh terhadap tumbuh kembang anak, mendampingi momen-momen pertama anak, serta menanamkan nilai-nilai yang berpengaruh positif pada kematangan sisi emosionalnya.

(Tabloid Nova/Ratih Sukma Pertiwi)
 


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.