Kompas.com - 19/02/2017, 11:02 WIB
|
Editor Syafrina Syaaf

KOMPAS.com — Separuh dunia sudah telanjur bergulir dan bertebaran dengan kebencian. Kebanyakan orang tak lagi merasa sungkan atau berpikir dua kali untuk merugikan orang lain selama itu menguntungkan mereka.

Kondisi ini bisa jadi karena semakin terkikisnya budaya menolong orang lain tanpa pamrih, baik dalam skala kecil maupun besar di lingkungan sosial.

Taruhan dari suasana yang tidak sejuk ini tentulah anak-anak.

Bisa Anda bayangkan jika anak-anak telah terdidik pelit dan egois sejak dini, maka dunia akan penuh dengan orang-orang pemarah dan tidak menghargai norma-norma hidup yang positif.

Menurut sejumlah psikolog, satu hal kecil untuk menghindari masa depan yang penuh dengan jiwa-jiwa pemarah adalah mengajarkan seni berbagi dan menolong kepada orang lain.

Sebuah laporan dari The New York Times, kebanyakan anak zaman sekarang tumbuh kritis dan selalu mempertanyakan apa yang diajarkan orangtua, tak terkecuali didikan untuk menjadi seseorang yang murah hati dan penolong.

Jika si kecil mempertanyakan hal ini kepada Anda, maka hal yang harus Anda lakukan adalah memberikan contoh nyata kepada si kecil.

Ceritakan pengalaman saudara dekat atau Anda sendiri ketika menolong orang lain dan apa manfaatnya bagi mereka yang ditolong tersebut.

“Ceritakan juga betapa bahagia hati ketika orang yang Anda tolong berhasil keluar dari kesulitannya. Rasa bahagia itu tidak bisa dibuat-buat dan dibeli dengan uang. Jelaskan secara bijak kepada anak,” ujar Annie Hernandez, seorang direktur dari yayasan sosial bernama C.Fox.

Hernandez juga menganjurkan orangtua untuk mengajarkan anak menolong orang lain lewat cara praktis, misalnya memberikan kursi pada kaum lanjut usia di angkutan umum, menyisihkan sedikit uang untuk pengemis atau pengamen, dan masih banyak lagi.

“Kemudian, orangtua tanyakan kepada anak bagaimana perasaan anak setelah menolong. Katakan bahwa kebahagiaan yang mereka rasakan itu merupakan sesuatu tanpa pamrih yang tidak bisa dinilai dengan uang,” urainya.

Dia menambahkan bahwa pertanyaan-pertanyaan anak yang berkaitan dengan perilaku dalam lingkungan sosial harus dijawab dengan contoh nyata.

“Anda tidak bisa memberikan penjelasan atau teori kepada anak tanpa memberikan contoh,” pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.