Salin Artikel

Kisah Jaket Riot Raf Simons yang Jadi Incaran Kolektor

KOMPAS.com - Di saat Raf Simons menjahit tambalan bergambar David Bowie dan Bauhaus ke jaket army-nya tahun 2001, ia tidak sedang menciptakan mode, namun sekedar obsesi pribadinya.

Namun ternyata jaket bomber yang disebut "Riot Riot Riot!" itu kini menjadi salah satu item fesyen yang sangat dicari.

Penggemar barang vintage akan rela merogoh kocek hingga ratusan juta rupiah untuk menambahkan jaket Riot Raf Simons ke dalam koleksi mereka. Bahkan para selebritas terlihat bangga memakainya.

Baru-baru ini, rapper Drake mengenakan jaket itu dalam video musiknya, "Toosie Slide" yang membuat kalangan penikmat fesyen terkejut, ketika para ahli mode menunjukkan betapa tingginya harga dari jaket buatan Simons.

Video itu adalah momen berharga bagi karya Simons karena mendapat publikasi dari situs barang mewah The Robb Report serta Billboard.

Sebelum terpampang di video musik Drake, jaket bomber itu juga terlihat dipakai publik figur seperti Kanye West, Kim Kardashian dan Rihanna yang membuatnya makin populer.

Alhasil, minat terhadap jaket Riot Raf Simons meningkat di antara para kolektor dan penggemar mode vintage.

Jaket Riot menjadi bagian dari sejarah awal streetwear ketika perancang busana asal Belgia itu mulai mengabungkan gaya streetwear dengan fesyen kelas atas, jauh sebelum desainer Virgil Abloh dan Kim Jones mempopulerkan tren tersebut.

Saat ini, penikmat fesyen menganggap jaket bomber Riot sebagai barang koleksi antik yang menandai permulaan gaya streetwear.

Sangat langka menemukan jaket ini dalam kondisi masih bagus. Meskipun ada, harga yang dibanderol biasanya berkisar di angka 30.000 - 50.000 dollar AS (sekitar Rp 436 juta - Rp 728 juta).

Jaket Riot pun menjadi salah satu bagian dari budaya streetwear yang relatif banyak dicari, setara dengan sneaker Air Jordan 1 orisinal tahun 1985.

Air Jordan 1 dipopulerkan oleh legenda NBA Michael Jordan, sementara jaket Riot mendefinisikan warisan desainer Raf Simons di dunia streetwear.

Satu lagi, jaket Riot dianggap sebagai pondasi utama yang berkontribusi pada kebangkitan barang-barang vintage yang termasuk item arsip (archive clothing).

Ketika streetwear jadi simbol kemewahan

Sementara di ranah streetwear, jaket Riot buatan Raf Simons adalah item kunci untuk para kolektor obsesif.

Item streetwear lain yang setingkat dengan jaket Riot di pasaran meliputi rompi "Bulletproof" Helmut Lang buatan tahun 1997 dan potongan-potongan dari koleksi "Scab" Undercover tahun 2003.

Di mata masyarakat umum, jaket Riot mungkin hanya item alternatif yang coba ditawarkan oleh Raf Simons. Namun para penggila fesyen menganggapnya artefak budaya.

Mereka menilai jaket Riot sebagai simbol dari koleksi Fall/Winter 2001 yang inovatif, mengantarkan Simons menjadi pusat perhatian mode, terutama dalam dunia streetwear.

Karya itu telah melampaui budaya mode arsip, dari sekadar hobi menjadi ceruk pasar yang dapat terus berjalan bahkan kini berkembang.

Menurut Kelly Saborouh, pemilik Middleman Store Kelly Saborouh, "jaket Riot menunjukkan nilai potensialnya yang kuat sebagai hobi, minat, seni, atau bisnis."

Sepintas, jaket Riot terlihat seperti jaket army standar dengan detail berupa tambalan atau patch. Memang pada dasarnya, item itu adalah jaket camo MA-1 yang dibuat oleh perusahaan pakaian militer kecil di Eropa bernama Fostex.

Jaket MA-1 buatan Fostex bisa dibeli seharga 47 Euro atau sekitar Rp 812.000.

Yang menjadikan jaket ini mahal adalah ketika Simons memberi sentuhan tambalan bergambar potret musisi David Bowie dan gitaris Manic Street Preachers, Richey Edwards, serta poster Bauhaus.

Tulisan pada emblem di jaket Riot berasal dari artikel tentang menghilangnya Edwards, yang dipublikasikan secara luas selama pertengahan era 90-an.

Sederhananya, jaket tersebut adalah cerminan dari pengaruh musik yang sering ditampilkan Simons dalam desainnya.

Untuk koleksi "Radioactivity" 1998, Simons merujuk pada band favoritnya, Kraftwerk. Band asal Jerman ini dianggap sebagai pelopor musik elektronik.

Hubungan antara budaya musik anak muda dan pakaian menjadi ciri khas Simons, yang membentuknya sebagai bapak dari item streetwear kelas atas.

Virgil Abloh, yang dianggap memimpin gerakan streetwear kelas atas saat ini juga menerapkan prinsip serupa lewat kolaborasi fesyen dan musik bersama Daft Punk, Travis Scott, Kid Cudi, dan lain-lain.

Abloh pun memberi tanggapan mengenai Raf Simons. "Kamu dapat melakukan pendekatan terhadap seni mode dan mengaitkannya dengan budaya, musik, dan kesenian nyata saat itu," kata Abloh dalam wawancara bersama Vogue.

"Raf terhubung dengan semua itu, tapi outletnya adalah fesyen. Dia seperti spons yang menyerap lebih dari sekadar fesyen, yang kemudian mengalir keluar dalam karyanya."

Karya-karya masa lalu Simons bahkan menjadi referensi populer untuk pendekatan desain fesyen dari perancang busana seperti Abloh, Matthew Williams, dan Heron Preston.

Oversized lebih baik

Koleksi yang dipamerkan Simons di peragaan busana tersebut terbilang inovatif, karena ia yang awalnya membuat potongan desain dan setelan ramping, terlihat justru menghindari potongan skinny.

Perubahan pada desain Simons juga lantas menjadi populer di kalangan label pakaian pria lainnya seperti Dior dan Gucci.

Simons menerapkan siluet oversized dan tebal dari beberapa lapisan pakaian. Inspirasinya berasal dari pakaian sehari-hari kaum muda di Eropa.

"Di pasar loak di Wina, saya lihat anak-anak muda dari Ukraina atau Rumania hanya menambahkan layer dan menciptakan ketebalan pada pakaian mereka karena cuaca dingin," katanya kepada koran Swiss Neue Zürcher Zeitung kala itu.

"Apa lagi sebutan yang cocok untuk koleksi ini selain 'Riot Riot Riot'?”

Jaket army atau camo Riot hadir dalam versi standard olive dan lighter olive/white/grey camo, memiliki banyak potongan grafis, dan ditambahkan muatan musik serta post-apocalyptic untuk dipresentasikan kepada publik.

Tambalan yang diilhami oleh musik punk adalah karya yang tidak hanya terlihat pada jaket camo Simons, melainkan juga pada hoodie, kaus, dan atasan berlengan panjang buatannya.

Tambalan inilah kunci utama pada koleksi Simons dalam menegaskan etos kaum muda yang memberontak.

Selain itu, tampilan berlapis dan oversized pada jaket bomber Simons membuatnya kian populer saat ini.

Label lain seperti 1017 ALYX 9SM, Ader Error, Boris Bidjan Saberi, Sterling Ruby's S.R. STUDIO. LA (rekan kolaborator Simons) juga memiliki ciri khas teknik cetak dan layering ala Simons.

Ciri khas itu meliputi grafis bernilai seni, jaket parka oversized, celana dengan tambalan, serta rajutan asimetris yang menjadi norma dalam item streetwear kelas atas.

Cara membeli jaket Riot ciptaan Raf Simons

Selama bertahun-tahun, jaket Riot sering muncul di situs penjualan barang bekas seperti Grailed, Horror Vacuao, dan Middleman Store.


Para pemburu barang langka juga menjelajahi eBay serta platform lain di mana mereka berharap bisa memperoleh jaket Riot dengan harga yang relatif masuk akal.

Namun, beberapa tahun terakhir, lebih sulit untuk mendapat jaket MA-1 Simons yang terkenal. Langkah alternatif saat ini yaitu menyewa jaket melalui kolektor terpercaya, dan bisnis penyewaan jaket juga terus tumbuh.

Fashion archivists atau kolektor fesyen terkenal seperti David Casavant telah mengubah hobinya mengumpulkan item arsip menjadi usaha yang menjanjikan.

Casavant meminjamkan pakaian bekasnya kepada penata mode dan publik figur untuk keperluan pemotretan, video musik, atau bahkan penggunaan pribadi.

Cara inilah yang digunakan oleh Drake, Kanye West, serta Rihanna untuk dapat memamerkan jaket Riot buatan Raf Simons.

Namun, jika kita tidak berminat untuk menyewa jaket Riot, masih ada pilihan lain. Sejumlah label streetwear dan high-fashion memodifikasi desain jaket MA-1 sedemikian rupa seiring meningkatnya popularitas busana militer.

Alhasil, Raf Simons dengan Jaket Riot miliknya benar-benar membuka lahan baru di pasar untuk urusan desain siluet yang lebih berani.

Alpha Industries, perusahaan yang dikenal memproduksi jaket bomber telah menciptakan versi baru dari luaran (outerwear) mereka yang populer dengan tambahan emblem dan ukuran oversized.

Bagi label fesyen mewah, jaket bomber juga menjadi persembahan standar dalam koleksi yang dipamerkan hampir setiap musim.

Sebut saja Burberry dengan satu hybrid jacket/vest style untuk Fall/Winter 2019, Givency menawarkan item bermotif doberman untuk Fall/Winter 2013, dan Balenciaga dengan kain satin bermotif bunga untuk Spring/Summer 2013.

Pada awal Oktober 2018, jaket bomber Raf Simons dijual seharga 47.000 dollar AS atau setara Rp 684 juta di situs Grailed. Menurut Grailed, jaket Riot adalah barang paling mahal yang pernah dibeli di situs tersebut.

Bagi mereka yang masih memburu jaket Riot, baru-baru ini Raf Simons mengumumkan bahwa labelnya akan merilis kembali 100 buah jaket tersebut pada Desember 2020.

Proyek yang diberi nama "Archive Redux" ini akan menjadi "kesempatan orang-orang untuk merasakan pengalaman memakai jaket ini pertama kalinya," kata perusahaan Raf Simons dalam sebuah pernyataan.

Arsip ini juga menandai ulang tahun label Raf Simons ke-25 dan akan menghadirkan item seperti hoodie "Kollaps" dari koleksi Spring/Summer 2002, kemeja dan dasi koleksi Fall/Winter 1998, serta luaran roll neck dari koleksi debut sang desainer di Fall/Winter 1995.

Dimulainya revolusi

Dalam evolusi fesyen, khususnya streetwear, desainer Raf Simons dipandang sebagai pionir atas kemampuannya mengubah pakaian menjadi karya seni yang dikenal sepanjang masa.

Dampak kehadiran jaket Riot terhadap dunia streetwear dan koleksi arsip menunjukkan besarnya pengaruh Simons sebagai seorang seniman.

Simons memiliki keberanian untuk meninggalkan zona nyaman, karena ia yang awalnya membuat setelan skinny beralih menciptakan luaran oversized dan pakaian sehari-hari dengan grafis mencolok dalam koleksinya di tahun 2001.

"Koleksi "Riot Riot Riot!" Fall/Winter 2001 diakui sebagai koleksi yang mengawali masa keemasan Simons di pertengahan 2000-an," kata Saborouh.

"Raf Simons mengenalkan tampilan oversized dan mengintimidasi dengan minatnya terhadap musik serta film yang dituangkan pada pakaian dalam gaya postmodern yang menginspirasi banyak desainer muda hingga 20 tahun ke depan."

Kreasi Simons, terutama jaket Riot, menunjukkan arah dunia streetwear, terutama gerakan DIY yang sedang berkembang saat ini.

Pendeknya, jaket bomber Riot dari Simons mencerminkan awal dari revolusi mode. Itulah sebabnya barang ini dihargai sangat mahal.


https://lifestyle.kompas.com/read/2020/08/06/122555920/kisah-jaket-riot-raf-simons-yang-jadi-incaran-kolektor

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.