Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Tak Perlu Iri dengan Tetangga yang Kaya...

Padahal, keberadaan tetangga menjadi begitu penting terutama bagi orang-orang yang tinggal di rumah tapak.

Ada berbagai tipe tetangga yang banyak kita temui di lingkungan rumah.

Kasus babi ngepet di Depok mungkin mengingatkan kita bahwa ada tipe tetangga yang sering menyebarkan rumor tentang tetangganya.

Pada banyak kasus, hal ini bisa saja dilandasi rasa iri yang tidak disadari.

Ini mungkin juga dialami di lingkungan rumah kita atau bahkan oleh kita sendiri?

Iri adalah emosi yang mungkin pernah kita semua alami.

Tapi, ini adalah emosi yang berbahaya jika kita ingin membangun kehidupan finansial yang kuat.

Sebab, tindakan yang didasarkan pada emosi iri dapat mengarahkan kita pada keputusan finansial yang buruk.

Nah, jika Anda salah satunya, tak perlu iri dengan tetangga yang kaya.

Pertama, uang memang bisa membuat hidup lebih mudah. Tapi, banyak uang tak selalu bisa membuat bahagia, kok.

Kedua, menurut penulis Brokenomics: 50 Ways to Live the Dream on Dime, Dina Gachman, mengatakan, kita juga tidak tahu kondisi finansial sebenarnya dari tetangga kita itu.

"Mungkin kita melihatnya sering berganti mobil mewah, ponsel keluaran terbaru, baju mahal, tapi kita tidak pernah tahu apakah ada tagihan kredit di baliknya, atau hal lainnya," tulis Gachman, seperti dilansir Business Insider.

Tak hanya itu, laman The Simple Dollar menyebutkan, iri dengan kekayaan orang lain, termasuk tetangga, adalah "racun" buat kesehatan kehidupan finansial kita.

Sebab, gara-gara ingin punya barang seperti tetangga kita yang kaya, kita mungkin akan melakukan keputusan finansial yang buruk.

Mengatasi iri dengan kekayaan orang lain

Secara umum, laman Forbes membagikan beberapa tips yang bisa dilakukan jika kita merasa iri dengan kekayaan orang lain, termasuk tetangga, antara lain:

1. Jika iri dengan karirnya

Apa yang kita lihat hanya apa yang tampak dari luar.

Mungkin saja orang tersebut punya bos yang ribet, bekerja 12 jam sehari, atau mungkin juga malah benci dengan pekerjaannya tetapi tidak bisa lari.

Pada akhirnya, ini semua kembali pada diri kita sendiri.

Daripada fokus dengan pekerjaan orang lain, lebih baik melihat kembali pekerjaan kita sendiri dan mengapresiasi apa yang kita punya dan sukai dari pekerjaan kita.

Lebih jauh, coba cari tahu apa yang membuatmu iri. Sebab, kecemburuan sebetulnya bisa mengenali kesempatan baru.

Seperti, apakah artinya kita mau sering jalan-jalan? Apakah kita memang masih dalam proses karir yang mapan?

Ketika sudah mengidentifikasi pemicu rasa iri tersebut, kita bisa menjadikannya motivasi untuk mengatur target baru.

2. Jika iri dengan rumah mewahnya

Ingatlah, rumah yang penting nyaman.

Rumah yang lebih besar dengan material mahal belum tentu membuat kita merasa nyaman tinggal di dalamnya.

Alih-alih fokus pada objek, lebih baik fokus pada konsep "tempat tinggal".

Tanyakan pada diri sendiri, apa yang membuat kita nyaman di rumah? Apa memori paling indah yang kita miliki di rumah?

Bagaimana kita bersikap dan pikirkan tentang rumah kita adalah yang membuatnya menjadi luar biasa nyaman.

3. Jika iri pada gawainya

Kita mungkin iri ketika melihat orang lain punya ponsel baru yang mahal.

Namun, ingat kembali, apakah kita menginginkannya hanya karena orang lain memilikinya atau memang memerlukannya?

Jika alasannya adalah yang pertama, lebih baik urungkan niat untuk membelinya.

Perkembangan teknologi, termasuk ponsel, kini juga semakin cepat.

Mungkin lebih baik kita menyimpan uang dan melakukan riset untuk mencari tahu ponsel seperti apa yang benar-benar kita perlukan, lalu membelinya saat sudah dibutuhkan.

Selain itu, mungkin juga gara-gara memiliki ponsel mahal, orang tersebut jadi susah bepergian ke mana-mana karena khawatir ponselnya bakal diambil orang, atau lain sebagainya.

Hidup yang tak tenang begitu tentu tidak nyaman, bukan?

4. Jika iri dengan pakaian dan aksesorinya

Kita mungkin melihat orang lain bisa memakai baju merek ternama dan sepatu mahal, kemudian menginginkannya juga.

Tapi, pikirkan kembali, apakah memang kita memerlukannya?

Mungkin saja orang tersebut mengenakan pakaian mahal karena harus tampil representatif di depan klien.

Mungkin juga pakaian tersebut dibeli secara kredit sehingga dia punya banyak tagihan.

Jadi, hal terpenting adalah membeli segala sesuatu berdasarkan kebutuhan dan bujet yang kita punya.

Tampilan yang menarik tidak datang dari harga pakaian, melainkan dari kepercayaan diri yang bisa kita bangun.

https://lifestyle.kompas.com/read/2021/04/29/130441020/tak-perlu-iri-dengan-tetangga-yang-kaya

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.