Salin Artikel

Agar Tetap Lancar MengASIhi, Ibu Pekerja Siap Hadapi 4 Tantangan Menyusui Si Kecil Berikut

KOMPAS.com – Bagi seorang ibu bekerja, berat rasanya meninggalkan si kecil yang masih menyusu. Tak sedikit juga yang menganggap hal ini sebagai sebuah kejahatan. Padahal, bekerja di kantor atau berada di rumah merupakan pilihan yang sama-sama tidak mudah.

Ibu yang bekerja punya alasan sendiri, mulai dari pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga hingga sarana mengaktualisasi dirinya. Apa pun alasannya, ibu pekerja tetap menjadi seorang ibu yang sempurna bagi anaknya. Pada dasarnya, mereka tetap mengupayakan yang terbaik bagi si kecil.

Dalam hal menyusui, misalnya, tak sedikit ibu bekerja yang berkomitmen untuk memberikan air susu ibu (ASI) secara eksklusif kepada si kecil.

Perlu diketahui, menyusui si kecil tidak hanya dapat diberikan secara langsung. Si kecil tetap bisa mengonsumsi ASI lewat pemberian ASI perah (ASIP).

Cara tersebut yang biasanya dilakukan oleh ibu bekerja. Di sela-sela kesibukannya bekerja, ibu tetap bisa memompa (pumping) agar stok ASI si kecil cukup untuk kebutuhannya.

Namun, menjalani komitmen tersebut tak berarti tanpa tantangan. Kenyataannya, memompa ASI di tengah kesibukan bekerja di kantor tidak selalu mudah. Untuk mengetahui solusinya, pahami empat tantangan memompa ASI yang biasa dihadapi ibu pekerja.

  1. Manajemen waktu

    Pekerjaan dengan mobilitas tinggi atau banyaknya agenda meeting di kantor membuat ibu tidak memiliki waktu untuk memompa ASI. Hal ini menjadi permasalahan utama para ibu pekerja.

    Untuk menyiasatinya, ibu perlu manajemen waktu yang tepat. Atur kembali rutinitas harian mulai di rumah hingga saat di kantor. Lalu, masukkan dan tepati jadwal rutin untuk memompa ASI. Sebaiknya, ibu memompa ASI dalam rentang dua sampai tiga jam sekali saat berada di kantor.

    Sebelum berangkat bekerja, misalnya, susui si kecil langsung dari kedua payudara. Kemudian, ibu bisa mulai memompa ASI pada pukul 10.00 saat di kantor.

    Jadwal selanjutnya adalah pukul 13.00 dan pukul 16.00. Jika ibu pulang lebih dari pukul 18.00, lebih baik pompa ASI sekali lagi sebelum perjalanan pulang.

    Dengan memiliki jadwal pumping yang rutin, ibu bisa mengatur jadwal meeting setelah atau sebelum jadwal pumping.

    Namun, jika ada meeting dadakan, ibu dapat melakukan pumping lebih cepat dari jadwal sebelum memulai meeting. Hal ini untuk menjaga agar payudara tidak bengkak meski ibu melewatkan jadwal pumping.

  2. Jumlah ASI perah sedikit

    Dengan patuh terhadap jadwal pumping, ibu berharap produksi ASI akan stabil dan mampu memenuhi kebutuhan ASI untuk si kecil. Namun, terkadang ibu menyusui yang bekerja mendapatkan hasil pumping yang sedikit hingga jumlahnya kurang untuk si kecil.

    Jangan patah semangat dahulu karena tantangan yang satu ini. Berkurangnya produksi ASI bisa disebabkan berbagai hal. Salah satunya adalah stres.

    Seperti diketahui, ibu menyusui rentan mengalami stres karena berbagai hal, mulai dari kekhawatiran kurangnya produksi ASI, meninggalkan anak di rumah, hingga pekerjaan.

    Melansir situs web Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), semua stres secara otomatis memengaruhi produksi hormon oksitosin. Jika hormon ini menurun, produksi ASI pun dapat ikut menurun.

    Untuk menyiasatinya, ibu harus bisa mengelola stres dengan baik. Ibu menyusui juga dapat mengonsumsi makanan atau minuman penambah ASI, seperti susu, sayuran hijau, dan kacang-kacangan. Selain itu, ibu juga bisa mengonsumsi makanan favoritnya untuk meningkatkan mood.

    Kalau perlu, ibu juga bisa mengonsumsi suplemen penambah ASI. Akan tetapi, sebaiknya konsultasikan hal ini terlebih dahulu dengan dokter.

  3. Bayi bingung puting

    Permasalahan selanjutnya yang kerap dialami ibu menyusui yang bekerja adalah bayi bingung puting. Bingung puting adalah keadaan yang dialami bayi yang gagal menyesuaikan diri dari kebiasaan menyusu dengan dot menjadi menyusu lewat puting payudara.

    Hal tersebut bisa saja terjadi karena saat ibu bekerja, bayi meminum ASIP menggunakan botol susu atau dot. Adapun mekanisme menyusu yang berbeda dari dot inilah yang membuat bayi kebingungan saat kembali harus menyusu langsung dari payudara ibu.

    Mengutip dari webmd.com, terdapat dua jenis bingung puting. Pertama, tipe A yang terjadi pada bayi yang lebih muda. Mereka kerap kesulitan menempel pada payudara ibu setelah pemberian dot.

    Kedua, tipe B yang terjadi pada bayi dengan usia lebih tua. Secara spontan, mereka lebih menyukai susu botol daripada payudara ibu.

    Menurut IDAI, bingung puting dapat terjadi karena mekanisme menyusu langsung dari payudara ibu berbeda dengan dot. Saat menyusu langsung dari payudara ibu, bayi akan membuka mulutnya dengan lebar dan menjulurkan lidah sampai puting masuk jauh ke dalam mulut.

    Kemudian, lidah bayi akan bergerak bergelombang dan memerah ASI dengan sekuat tenaga. Sementara itu, saat menggunakan dot, bayi tidak perlu membuka mulutnya dengan lebar dan tidak perlu memasukkan dot jauh ke dalam mulut untuk minum.

    Solusinya, Anda dapat mengganti media pemberian ASIP saat bekerja. Ibu bisa memberikan ASIP dengan media cangkir atau sendok. Meski terkesan repot, hal ini membantu si kecil terhindar dari bingung puting.

  4. Puting lecet karena pompa ASI

    Tantangan berikutnya yang kerap dialami ibu menyusui adalah puting lecet karena pompa ASI. Untuk mengejar kebutuhan ASIP, tidak sedikit ibu yang kemudian menambah frekuensi pumping atau melakukan power pumping.

    Hal tersebut bisa saja menyebabkan puting payudara menjadi lecet. Belum lagi, jika ibu memompa ASI dengan alat yang kurang tepat. Terlebih, kalau material dan daya isapnya tidak nyaman saat digunakan. Kalau puting sudah lecet, rasa perih dan panas pun tidak dapat terhindarkan.

    Untuk mencegah puting lecet, ibu bisa memilih alat pompa ASI dengan ukuran yang tepat. Salah satu merek pompa ASI yang bisa dipilih adalah Mutter Breast Pump.

    Dengan mengusung tema “Breastfeeding is Fun”, Mutter Breast Pump dapat dijadikan gawai yang menemani perjalanan mengASIhi sehingga ibu bisa mendapatkan pengalaman menyusui yang menyenangkan.

    Founder dan Komisaris Mutter Indonesia dr Cynthia Merliana Candra mengatakan bahwa menyusui sangat erat hubungannya dengan hormon oksitosin yang diproduksi saat seorang ibu merasa senang dan rileks.

    “Demi mencapai tujuan tersebut, kami mengedepankan komitmen untuk terus menghadirkan produk-produk yang nyaman digunakan dan terutama, tidak membuat sakit,“ ujarnya.

    Mutter Breast Pump tersedia dengan berbagai model yang dapat memudahkan aktivitas ibu memompa ASI. Mutter Gold, misalnya, yang merupakan wearable breast pump yang punya empat mode khusus. Ibu pun dapat leluasa mengerjakan pekerjaan lain selagi memompa ASI.

    Untuk ibu yang baru memompa ASI, Anda bisa memilih Mutter Krystal Double Breast Pump. Pompa ASI jenis ini juga dapat membantu ibu yang memiliki puting rata. Dengan motor yang halus dan tidak berisik, pompa ASI ini dapat membantu ibu untuk merangsang let-down reflex.

    Bagi ibu dengan mobilitas tinggi, Mutter New Pearl Double Breast Pump dapat menjadi teman setia. Bentuk Mutter New Pearl Double Breat Pump kecil dengan layar LED besar, membuat ibu dapat dengan mudah mengatur mode pumping.

    Selain itu, ada juga Mutter Topaz Integrated Breast Pump. Dengan corong baru Ergo-Max, pompa ASI ini praktis dan ringan di tangan.

    Saat berada di rumah pun, ibu dapat menampung ASI sekaligus memompanya saat menyusui langsung dengan Mutter Silicone Breast Pump.

Itulah tadi pilihan pompa ASI yang dapat digunakan ibu pekerja. Pilihlah pompa ASI yang sesuai dengan kebutuhan agar empat tantangan tadi bisa dilewati.

Ingin tahu berbagai keunggulan Mutter Breast Pump lebih lanjut? Silakan kunjungi situs web resmi Mutter Breast Pump atau ikuti Instagram @mutter.life.

https://lifestyle.kompas.com/read/2022/06/22/114628820/agar-tetap-lancar-mengasihi-ibu-pekerja-siap-hadapi-4-tantangan-menyusui

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.