Michael Phelps dan Perjuangannya Menaklukkan ADHD

Kompas.com - 09/08/2016, 18:00 WIB
Michael Phelps dan tim estafet 4x100 meter AS.

KOMPAS.com - Di usia 31 tahun, Michaels Phelps telah memiliki karier cemerlang sebagai perenang elit. Ia merupakan perenang pertama yang mampu meraih medali emas di empat Olimpiade berbeda.

Medali emas tersebut juga menambah koleksi medali Olimpiadenya menjadi 23, dengan 2 diantaranya medali perak dan 2 medali perunggu. Prestasinya itu bukan hanya membuat orangtuanya bangga, tapi juga putranya Boomer yang ikut menyaksikannya bertanding di Rio.

Jalan menuju podium Olimpiade Rio sebenarnya tak pernah mudah bagi Phelps atau orangtuanya. Saat Michael duduk di kelas enam, ia sering gelisah dan sulit memusatkan perhatian di kelas.

Dokter anak kemudian mendiagnosisnya dengan gangguan pemusatan perhatian (ADHD) dan meresepkan obat Ritalin. Michael mengonsumsi obat itu selama beberapa tahun dan cukup membantu mengendalikan energinya.

Di usia 13 tahun, ia sempat memutuskan hanya memakai obat pada waktu tertentu saja. Ia merasa jika ia bisa menggunakan pikirannya untuk mengendalikan perilaku dan fokusnya, maka ia bisa bebas dari obat.

Dalam autobiografinya No Limits, secara jujur Michael pernah merasa dipermalukan di depan temannya ketika perawat sekolah datang ke kelasnya untuk mengingatkannya minum obat Ritalin.

Michael juga berupaya menjaga pikirannya selalu fokus dan mengontrol dirinya di kelas. Ia juga meyakini tak ada yang mustahil.

Michael kemudian menemukan bahwa berenang bisa membantunya mengontrol energi dan mencegahnya terus bergerak.

Atas seijin dokternya, ia pun mulai mengurangi obatnya dan belajar menggunakan kekuatan pikirannya untuk fokus di sekolah.

Tak akan sukses

Di masa sekolah, gurunya pernah mengatakan kepada orangtua Michael bahwa anak laki-lakinya itu tak akan sukses karena ia tidak bisa fokus pada apa pun dalam waktu lama.

Namun Michael berhasil mendobrak prediksi guru dan juga orangtuanya. Ia kini menjadi atlet yang paling banyak mengumpulkan medali di Olimpiade.

Latihan keras dan disiplin berlatih renang, menjadi solusinya untuk mengeluarkan energi yang selama ini membuatnya selalu ingin melompat dan bergerak gelisah.

Phelps berhasil memanfaatkan energinya yang besar untuk mencapai kecepatan dalam berenang. Perenang karismatis ini bisa menjadi insipirasi bagi orangtua yang memiliki anak-anak aktif dan sudah didiagnosis ADHD.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorLusia Kus Anna
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X