Respons Cepat Gejala Sakit Jantung Tekan Risiko Fatal - Kompas.com

Respons Cepat Gejala Sakit Jantung Tekan Risiko Fatal

Kompas.com - 26/09/2016, 21:00 WIB
Thinkstockphotos Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS — Sebagian orang dengan gejala sakit jantung kerap mendiamkan dan memilih tidak memeriksakan diri ke dokter. Padahal, makin cepat dan dini penyakit diketahui, keberhasilan penanganan lebih tinggi dan memperkecil risiko kematian. Apalagi, teknologi penanganan terus berkembang.

Penyakit jantung terjadi saat jantung tak optimal memompa darah ke seluruh tubuh. Gejalanya, antara lain sakit berat di dada yang biasanya menjalar ke bagian lain, sesak napas, keringat dingin, dan cemas luar biasa.

"Pengobatan jantung sekarang jauh lebih baik," kata ahli kardiologi Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk, Antono Sutandar, dalam Forum Diskusi Kesehatan "Mengenali Gejala Penyakit Jantung" kerja sama harian Kompas, RS Siloam, dan Radio Sonora di Jakarta, Sabtu (24/9).

Pembicara lain Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Lily Sriwahyuni Sulistyowati dan Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Syahlina Zuhal. Diskusi menyambut Hari Jantung Sedunia, 29 September 2016.

Teknologi penanganan sakit jantung berkembang dan membantu menekan angka kematian (mortalitas). Antono menyebut, ketika unit perawatan kardiologi intensif (ICCU) belum fasilitas utama RS sebelum 1970-an, 30 persen serangan jantung disertai kematian. Setelah alat defibrilator dan fasilitas ICCU mulai digunakan 1970-an, mortalitas berkurang menjadi 15 persen.

Tahun 1980-an, aspirin mulai dipakai rutin, termasuk mencegah peningkatan keparahan sehingga mortalitas di RS turun jadi 12 persen. Tahun 1990-an, obat fibrinolitik mulai dikenal, kematian turun jadi 9 persen. Periode 2000-an, fasilitas angioplasti atau pemasangan ring pada jantung mulai populer, mortalitas 5-6 persen.

Namun, keberhasilan tindakan bergantung kecepatan penderita atau sekitar penderita merespons memeriksakan ke dokter, seberapa pun gejalanya. "Sepertiga manifestasi pertama sakit jantung adalah serangan jantung," ujar Antono.

Artinya, para penderita kerap baru sadar memiliki masalah setelah serangan jantung, yaitu saat otot jantung rusak. Itu meningkatkan risiko kematian.

Pencegahan terbaik

Lily mengatakan, langkah terbaik tetaplah mencegah sakit jantung, tidak membiarkan diri terserang meski teknologi pengobatan berkembang. "Sebanyak 80 persen penyakit tidak menular bisa ditekan dengan gaya hidup sehat," katanya.

Caranya, periksa berkala, mengenyahkan asap rokok dan minuman beralkohol, rajin aktivitas fisik, makan makanan sehat dengan gizi seimbang, istirahat cukup, dan mengendalikan stres.

Salah satu kunci diet gizi seimbang adalah mengendalikan konsumsi gula, garam, dan lemak. Konsumsi gula (termasuk yang untuk bahan baku pangan) maksimal 4 sendok makan peres per hari.

Adapun konsumsi maksimal garam dua gram atau satu sendok teh per hari dan lemak (termasuk minyak) 67 gram atau 5 sendok makan peres per hari.

Antono mendorong masyarakat rajin aktivitas fisik. Selain menjaga kesehatan, aktivitas fisik jadi alarm alami terbaik guna mengetahui kondisi jantung.

Berdasar Sample Registration System Indonesia 2014, penyakit jantung dan pembuluh darah menempati urutan kedua dari 10 penyebab kematian utama pada semua umur, mencakup 12,9 persen kematian. Urutan pertama adalah stroke (21,1 persen).

Hingga kini, kata Syahlina, yayasan jantung terus sosialisasi dan membantu pengobatan bagi keluarga tidak mampu. (JOG)

 

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 26 September 2016, di halaman 14 dengan judul "Respons Cepat Tekan Risiko Fatal".


EditorLusia Kus Anna
Close Ads X