Kompas.com - 07/10/2017, 13:21 WIB
Ilustrasi senyuman Minerva StudioIlustrasi senyuman
Penulis Wisnubrata
|
EditorWisnubrata

KOMPAS.com - Tersenyumlah, dan dunia akan ikut tersenyum. Kalimat ini ternyata bukan omong kosong. Pernahkah Anda bertemu muka dengan seseorang, lalu dia tersenyum, dan tanpa disadari Anda ikut tersenyum?

Hal seperti itu ternyata terjadi di seluruh belahan dunia. Entah apa alasan dan sebabnya, jika kita diberi senyuman, kita secara otomatis akan membalasnya.

Nah pada Hari Senyum Internasional yang jatuh pada Jumat pertama tiap Oktober, para ilmuwan mengungkap alasannya. Ini akan menjawab pertanyaan: benarkah senyuman itu menular?

Menurut study yang dipublikasikan di journal Trends in Cognitive Sciences, jawabannya barangkali iya, senyum bisa menular. Dalam bagian risetnya, psikolog Paula Niedenthal dan Adrienne Wood mencari tahu mengapa kita sering menirukan ekspresi wajah seseorang yang berbicara kepada kita.

Menariknya, salah satu kesimpulan yang didapat adalah bahwa kita cenderung memasang raut yang sama saat berkomunikasi dengan orang lain. Contohnya, saat seorang teman menyampaikan kabar baik dengan wajah gembira, kita secara tak sadar akan menunjukkan emosi yang sama lewat ekspresi wajah. Dengan begitu, kita akan lebih bisa merasakan emosinya.

“Melalui ekspresi yang sama, kita akan bisa memberi penilaian lebih baik terhadap apa yang disampaikan seseorang,” jelas Niedenthal. “Reaksi yang muncul dari emosi itu memberi persepsi atau frekuensi yang sama, sehingga kita lebih memahami konteksnya.”

Jadi, alasan kita membalas senyuman orang lain adalah bahwa kita berusaha merasakan hal yang dirasakan orang lain. Dengan ekspresi sosial sederhana ini, manusia bisa menjalin komunikasi dan pengertian lebih mendalam dengan orang lain di sekitarnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Manfaat Tersenyum dan Tertawa bagi Kesehatan

Meski demikian, tidak semua orang secara otomatis akan membalas sebuah senyuman. Dalam penelitian, para psikolog mencatat bahwa orang-orang dengan kelainan saraf tertentu mungkin tidak bisa membalas senyuman atau tidak bisa secara akurat menirukan ekspresi orang lain. Meski bisa menyadari seseorang tersenyum padanya, namun mereka tidak selalu bisa membalasnya.

“Ada beberapa gejala yang ditemui pada pengidap autisme di mana seseorang tidak bisa meniru ekspresi karena kurangnya kontak mata atau karena ketidakmampuan memahami ekspresi,” lanjut Niedenthal.

Meski demikian, pada kebanyakan orang, ekspresi wajah menjadi bagian dalam komunikasi manusia. Ekspresi bisa membantu kita membangun hubungan dengan orang lain, dan itu adalah sesuatu yang alami. Jadi apakah senyum itu menular? Jawabannya: ya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.