Tak Ada Salahnya Sesekali Orangtua Menangis di Depan Anak

Kompas.com - 13/06/2019, 16:00 WIB
IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com – Ketika kita sebagai orangtua merasa sangat marah atau ingin menangis, biasanya kita akan menekan emosi tersebut atau buru-buru menyembunyikan air mata agar tidak terlihat anak.

Pada dasarnya normal jika kita ingin melindungi anak dari hal-hal tidak menyenangkan dalam hidup, namun sebenarnya ada manfaat yang didapat anak ketika melihat orangtuanya menangis.

“Jika anak melihat orangtua atau pengasuhnya menangis ketika merespon situasi atau momen tertentu, hal itu bermanfaat baginya. Setiap manusia memang perlu mengekspresikan perasaannya,” kata konselor dan psikolog Tammy Lewis Wilborn.

Untuk membantu anak memiliki kecerdasan emosional, maka penting baginya untuk merasa normal pada setiap emosi yang dialami.

Ketika orangtua menangis saat merespon situasi tertentu yang juga membuat anak sedih (misalnya kematian kakek nenek atau anggota keluarga), anak akan merasa ia tidak sendirian dalam kesedihan tersebut.

“Karena anak-anak belum punya banyak pengalaman kehidupan, ketika mereka merasakan perasaan  yang berbeda-beda ia juga akan berpikir ‘Apakah hal itu normal? Apakah ada sesuatu yang salah denganku?,” kata Willborn.

Saat anak merasa sedih, orangtua bisa mengajak anak berbicara bahwa kesedihan itu wajar dan akan membantu mereka belajar mengatasi perasaannya secara lebih baik.

Baca juga: Sekalipun Marah, Jangan Pernah Pukul Bokong Anak...

Anak-anak yang melihat orangtuanya menangis juga akan membuat sosok ayah dan ibunya lebih manusiawi. Mereka juga akan menyadari bahwa orang dewasa pun bisa terpengaruh oleh hal-hal menyedihkan.

“Anak-anak juga bisa bingung dan takut ketika orangtuanya marah. Setelah itu, penting untuk memberi penjelasan sesuai usia anak, bahwa orangtua juga mengalami momen emosional. Yakinkan mereka bahwa Anda baik-baik saja,” kata psikolog anak Jillian Roberts.

Orangtua sebaiknya diberikan informasi yang cukup untuk membantu mereka memahami bahwa tidak ada alasan untuk takut atau bingung, dan mereka bisa bertanya pada orangtuanya tentang hal-hal yang membuat tidak nyaman.

“Ketika membicarakan ke anak tentang pengalaman emosional dan bagaimana kita menghadapinya, kita mengajarkannya tentang keterampilan hidup dan memberi mereka ijin untuk mendiskusikan pengalaman mereka sendiri, dan itu sangat sehat,” kata Roberts.

Komunikasi semacam itu juga akan membuat ikatan antara orangtua dan anak lebih kuat. Yang perlu diingat, sesuaikan bahasa yang dipakai dengan perkembangan mental anak.

Terkadang, ada alasan mengapa orangtua menangis yang tidak bisa diungkapkan kepada anak karena mereka masih terlalu kecil, tetapi yang terpenting adalah memberikan konteks agar anak mengerti bahwa bukan mereka yang menyebabkan ayah atau ibunya menangis.

Misalnya saja kita tak bisa menjelaskan bahwa sedang ada masalah utang dengan bank sehingga rumah akan disita. Tapi kita bisa mengatakan, “Ayah tahu kamu tadi melihat ayah menangis. Ayah sedang menghadapi masalah berat, tapi akan mencari jalan keluar dan kita akan baik-baik saja”.

“Orangtua juga bisa menanyakan pada si kecil tentang perasaannya ketika melihat ayah atau ibunya menangis. Ini akan memberi mereka kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya,” ujarnya.

Walau orangtua boleh saja mengekspresikan kesedihannya, tetapi jangan melakukannya terlalu sering karena anak akan merasa bersalah sebab mereka ingin melakukan sesuatu tetapi tidak tahu harus bagaimana.

Baca juga: Mengapa Kita Menangis Saat Bahagia?

 

 

 

 

 

 




Close Ads X