6 Tanda Mood Swing Perlu Diwaspadai

Kompas.com - 15/12/2010, 13:58 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Mood swing sering disebut sebagai salah satu efek samping premenstrual syndrome (PMS). Namun cobalah mengamati bagaimana pola mood swing Anda ini. Apakah rasa mudah marah atau mudah menangis itu sudah mengganggu kehidupan kerja atau relasi Anda dengan keluarga dan teman-teman? Bila ya, kemungkinan Anda mengalami premenstrual dysphoric disorder (PMDD) atau gangguan disforik pramenstruasi. Dan jika gejala tersebut berlanjut bahkan setelah menstruasi Anda lewat, bisa jadi hal ini merupakan suatu tanda depresi atau kelainan bipolar (rasa depresi muncul bergantian dengan rasa gembira).

PMDD sendiri memberikan kekacauan emosional yang sama dengan PMS, tapi seringkali lebih parah. Gangguan ini menyerang perempuan seminggu sebelum mulai mens, sama seperti PMS. Para pakar bahkan mengaitkan PMDD dengan insiden bunuh diri yang lebih tinggi pada perempuan.

Sebanyak 75 perempuan akan mengalami PMS dalam kadar ringan, dan hanya 5 persen yang mengalami gejala cukup parah sehingga mengarah pada PMDD, demikian menurut M. Beatriz Currier, MD, profesor bidang psikiatri klinis di University of Miami Miller School of Medicine. Belum diketahui apa penyebab pasti PMS atau PMDD, tetapi dengan waspada bahwa Anda mungkin mengalami PMDD bisa membantu Anda mengurangi efeknya. Kebanyakan perempuan menemukan cara untuk mengatasinya dengan mengubah pola makan, istirahat, dan olahraga.

Untuk mengetahui apakah mood swing yang Anda alami masih normal atau sudah di luar batas, simak enam gejala berikut.

Gejalanya hanya emosional

Bila Anda menghadapi PMS, Anda juga akan mengalami gejala fisik seperti perut kembung, payudara nyeri, dan diikuti dengan gejala emosional seperti mood swing. "Jika gejala itu kebanyakan emosional, dan sangat mengacaukan hidup Anda, kemungkinan Anda mengalami PMDD," ujar Patricia J. Sulak, MD, profesor kebidanan dan kandungan di Texas A&M Health Science Center College of Medicine, dan direktur program pendidikan seks remaja di Scott & White Clinic and Memorial Hospital, di Temple.

Anda mengalami depresi yang parah
Jika Anda merasa sedikit down seminggu sebelum mens, namun merasa baik-baik saja sesudahnya, bisa dipastikan Anda hanya mengalami PMS. Tetapi jika depresi pra menstruasi ini mengacaukan pekerjaan dan hubungan Anda, ada kemungkinan PMDD yang jadi penyebabnya. Apalagi jika depresi itu tak juga hilang sepanjang bulan, mungkin Anda sedang mengidap penyakit lain yang mendasar.

"Sebagian perempuan yang bilang, gejala itu benar-benar mustahil terjadi seminggu sebelum mens, tapi kalau Anda mulai menggali informasi mengenai energi, nafsu makan, atau kondisi tidurnya, mereka akan bilang bahwa mereka tak pernah benar-benar kembali ke diri mereka yang lama," ujar Dr Currier. "Hal itu bisa berarti pasien mengalami depresi mendasar yang bertambah parah selama masa pra menstruasinya."

Anda mudah marah, gelisah, dan gampang menangis
Meskipun Anda tidak mengalami depresi, adanya gejala seperti di atas bisa merupakan pertanda Anda mengidap PMDD. Masalahnya, Anda tidak tahu apakah gejala tersebut kadarnya normal atau tidak. Apalagi, saat kita menghadapi hari-hari yang begitu sibuk, kita juga sering merasa ucapan atau tindakan orang lain bisa sangat mengganggu.

Nah, kalau tingkat ketergangguan Anda ini meningkat ke titik dimana Anda akan menumpahkannya kepada keluarga atau rekan kerja, bisa jadi yang Anda alami lebih dari sekadar PMS. Dan kalau Anda merasa lebih cengeng daripada biasanya menjelang haid, Anda tak perlu khawatir. Kecuali, Anda terus menangis tanpa alasan tertentu.

Ada perasaan meluap-luap dan melebihi batas
Normal saja jika Anda merasa kewalahan ketika harus membagi waktu, tenaga, dan pikiran, antara mengurus anak, pekerjaan, dan masalah pribadi. Namun ketika gelombang perasaan tersebut mengancam diri Anda, bisa jadi itu gejala PMDD.

"Pasien-pasien saya bilang, mereka mudah 'meledak' ketika harus mengantar anak-anak ke sekolah," papar Dr Currier. "Mereka merasa kewalahan dengan jadwal harian yang sudah rutin itu." Sebagian pasien yang lain mengatakan, mereka ingin berteriak atau mencubiti anak karena merasa tak mampu mengatasinya.

Anda sulit berkonsentrasi

Penurunan memori atau konsentrasi, seperti lupa menaruh kunci atau mengingat nama seseorang, biasa kita alami. Namun ketika gejala ini mulai mengacaukan hidup Anda dengan serius, lebih baik Anda berkonsultasi dengan dokter. “Perempuan yang mengidap PMDD biasanya mengatakan, 'Aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaan'. Tetai mereka merasa itu hanya karena mereka tidak produktif saat ini," ujar Dr Currier.

Durasi gejalanya
Apapun gejala yang Anda alami, seharusnya sudah lenyap dalam sehari atau dua hari setelah Anda menstruasi. Tetapi Anda perlu bertanya pada dokter mengenai kemungkinan PMDD kalau gejala tersebut sudah sangat mengganggu, dan masih terjadi pada awal menstruasi Anda berikutnya. "Gejala semacam itu umumnya menjadi masalah seminggu sebelum masa menstruasi, dan akan mereda pada hari kedua mens," tukas Dr Currier. Ketika gejala yang Anda rasakan tidak datang bersamaan dengan masa menstruasi, mungkin Anda mengalami gangguan kecemasan. Saat itulah mungkin Anda menghadapi PMDD.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X