Apakah Anda Termasuk "People Person"?

Kompas.com - 07/01/2013, 11:57 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Apakah Anda termasuk "People Person"? Banyak orang mengklaim dirinya sebagai People Person semata karena setuju dengan pernyataan: "manusia adalah aset terpenting". Namun demikian, kerap kita lihat klaim itu sebatas di bibir saja, kenyataannya bisa jauh berbeda.

Masih banyak orang mengeluh bahwa atasannya tidak tersenyum ketika bertemu di lift. Masih banyak atasan yang melihat bawahan sebagai orang yang tidak mempunyai inisiatif, sehingga perlu dikontrol, diawasi, dan diingatkan terus.

Ada pimpinan perusahaan, yang jelas-jelas sadar perannya sebagai role model, namun bisa dengan enteng mengatakan bahwa ia tidak berkepentingan mengurusi "orang", karena "orang" itu urusan line managers atau HRD. Bahkan, orang HRD sendiri pun, yang dinilai sebagai ahli manusia, ada yang kelihatan tidak berminat pada "orang", misalnya: susah tersenyum, tidak mendengar, buang muka saat bertemu atau tidak turun bergaul.

Kita sesungguhnya bisa menilai kedalaman People Person dari "rasa" dan "emosi" antarmanusia. Banyak perusahaan yang meletakkan investasi besar-besaran untuk perbaikan sistem dan proses bisnis, namun tidak mau tahu bagaimana perubahan kebiasaan akibat sistem baru tersebut membuat karyawan merasa frustrasi.

Saat akhir tahun di mana kita mulai menetapkan target-target kerja, banyak terdengar kata "tidak mau tahu" dan menilai sudah sewajarnya orang digaji untuk bekerja keras dan mencapai target yang ditetapkan. Selain mengevaluasi hubungan kita dengan rekan kerja di kantor, rasanya kita pun harus mengevaluasi juga hubungan kita dalam keluarga. Bukankah banyak orang yang merasa bahwa connections dalam keluarga itu cukup dibangun dengan makan bersama secara berkala, tanpa memperhatikan sambung hati dan pemikiran? Bila ini yang terjadi, kita menghadapi gejala penumpulan "rasa" dalam pendekatan manusia.

Di abad ke-21 ini, perusahaan yang sukses justru perusahaan yang dikenal dengan "people" companies, di mana karyawan tidak sekadar memenuhi KPI (key performance indicator)-nya saja, tetapi juga meletakkan hatinya dalam bekerja. Mau tidak mau hal ini sangat tergantung pada hubungan interpersonal di dalamnya. “Relationship is the mirror in which we see ourselves as we are.”

Herb Kelleher, co-founder Southwest Airlines, jelas membuktikan betapa policy-nya terkait "Employees First" berhasil membawa perusahaan menghindari kebangkrutan, tetapi justru meraih penghargaan karena atensi dan keyakinannya ke "people". Sebelum engagement menjadi tren seperti sekarang, beliau sudah mengatakan: “A company is stronger if it is bound by love rather than fear”.

Pertanyaannya adalah: bagaimana kita mengembangkan diri sebagai People Person yang betul-betul ahli dalam membangun hubungan dan rasa pada manusia lain? Bagaimana kita membudayakan sikap respek dan melayani yang tulus, bila di perusahaan ada puluhan ribu karyawan?

Empowerment mindset
Alasan utama mengapa orang tidak menjadi People Person adalah karena ketidakyakinannya bahwa manusia punya kapasitas ekstra yang luar biasa. Padahal, kita bisa menemukan banyak bukti di mana kemampuan simpati dan empati sangat sakti dalam proses negosiasi maupun kegiatan interpersonal lain, bahkan juga bisa menumbuhkan kreativitas untuk menciptakan hal-hal yang disangka tidak mungkin.

Kita jelas perlu mengingat bahwa: "When you make a positive difference in the life of one person, you've made a difference in the world". Bila keyakinan ini dimiliki oleh individu, ia akan mempersepsi manusia, pelanggan atau bawahan dengan cara yang berbeda. Bila seorang atasan meyakini betapa personal growth dan hubungan baik perlu dijaga, ia akan berusaha menggali sebanyak-banyaknya energi yang ada dari orang yang ia temui dan akan menyadari bahwa empowerment bisa mengubah individu. Kharismanya dalam memimpin pun akan lebih kuat, bahkan bisa menulari individu dengan kehendak untuk maju dan berubah.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X