Hanbok Korea Terus Mendunia, Bagaimana dengan Batik Indonesia?

Kompas.com - 14/10/2013, 17:25 WIB
Armani merupakan salah satu fans berat dari hanbok. CNNArmani merupakan salah satu fans berat dari hanbok.
|
EditorD. Syafrina Syaaf
KOMPAS.com - Selama ini, dibandingkan dengan kimono khas Jepang dan cheongsam dari China, hanbok Korea memang belum terlalu terkenal. Namun para desainer dari Korea mulai unjuk gigi untuk mempopulerkan hanbok. Upaya ini dimulai oleh Lee Young Hee, desainer Hanbok terkenal di Korea Selatan yang berhasil mengadakan fashion show di Paris pada tahun 1993.

Sayang, karena waktu itu hanbok belum terlalu dikenal, maka banyak orang yang salah kaprah dan menganggap busana itu sebagai Kimono. Namun kini, lain cerita,  ternyata popularita aliran musik K-pop berdampak positif pada negeri ginseng tersebut. Melihat kondisi positif ini, pemerintahan Korea Selatan semakin gencar memperkenalkan hanbok pada dunia.

Sejak dua tahun lalu, hanbok mulai mendapat perhatian luas. Menyusul keberhasilan Lee Yong He, desainer muda Korea, Lee Soon Il  juga sukses menampilkan koleksi hanbok tradisionalnya pada sebuah gelaran busana kecil, di New York bulan Agustus lalu.

Bahkan desainer-desainer terkenal dunia menggunakannya sebagai inspirasi dalam desain mereka,sebut saja Dior dan Carolina Herrera. Kedua desainer ini terinspirasi oleh hanbok saat merancang koleksi busana musim semi 2011 yang lalu.

Selain itu, desainer sekaliber Giorgio Armani dan Miuccia Prada juga termasuk penggemar berat hanbok. Kedua desainer ini, seringkali terlihat mengunjungi rumah mode Lee Young Hee Hannok Atelier di Seoul, untuk berburu kain dan juga inspirasi hingga saat ini.

Hanbok sebenarnya merupakan pakaian yang rumit. Mulai dari cara penggunaan dan tumpukan busananya yang terdiri dari chima (rok tinggi), mujigi, dan jeogori (atasan lengan panjang) dengan dua goreum (pita panjang). Selain itu, busana ini punya aturan pakai yang jelas. "Ketika memakai hanbok, Anda harus tahu kemana akan pergi dan untuk acara apa. Busana adat ini tidak sefleksibel busana ala Barat lainnya," ungkap Lee Yong He.

Desainer kelas dunia ini ternyata kagum pada perpaduan warna, siluet tradisional, elegansi dan keanggunan hanbok. Mereka juga kagum pada falsafah serta sejarah pembuatannya. "Hanbok semuanya adalah tentang warna, desain terpentingnya adalah pemilihan warnanya sendiri," tambahnya.

Warna-warni hanbok ternyata tak cuma memikat desainer kelas dunia. Selebriti Hollywood seperti Britney Pop dan Paris Hilton juga terpikat dengannya. Kedua selebriti ini menarik perhatian dunia ketika mereka melakukan perjalanan ke Korea dan memakai hanbok pada tahun 2011 lalu.

Kedua selebriti ini mengundang kontroversi karena mengenakan hanbok berwarna merah mudah. Padahal, menurut aturan budaya setempat, hanbok warna merah muda umumnya digunakan oleh anak-anak, dan pengecualian untuk perempuan dewasa yang mengadakan perayaan pertunangan.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, menurut salah satu staf di Maison de Lee Young Hee, ada 30 persen pelanggan asing, seperti pengantin asing, desainer, sampai artis dan turis yang mencari hanbok.

Lalu bagaimana dengan kebaya dan batik khas Indonesia? mungkinkah di waktu mendatang pengakuan dunia terhadap batik akan lebih mahsyur dibandingkan hanbok?

Seperti halnya hanbok Korea Selatan, mengenalkan budaya bukan hanya tugas pemerintahnya saja, tapi juga tanggung jawab rakyatnya sendiri. Langkah pemerintah menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional, terkait pengakuan dunia ter­hadap batik sebagai bagian dari budaya negeri ini sudah tepat. Sekarang, tinggal bagaimana kita mendukung dan menunjukkan kebanggaan terhadap batik.

"Pendekatan budaya merupakan salah satu upaya diplomatis yang menarik, karena melibatkan rasa dan apresiasi yang bersifat universal. Juga melalui budaya, dalam hal ini batik yang begitu kaya dengan nilai sejarah, desain dan corak, akan lebih mudah menyampaikan pesan bahwa Indonesia adalah kesatuan yang beragam. Dukungan pemerintah dalam memajukan batik harus terus berlanjut. Komunikasi dan koordinasi masih sangat diperlukan, agar didapatkan ekosistem kondusif di bidang usaha ini," jelas Johannes Bima, CEO dari Iwan Tirta Batik, kepada KompasFemale dalam wawancara tertulis beberapa waktu lalu.

Lalu lebih lanjut, Johannes juga menuturkan bahwa yang diperlukan oleh pengusaha dan pengrajin kain batik bukanlah komersialisasi sesaat yang memancing pemikiran keuntungan sesaat pula. Tujuannya, supaya kelak batik bisa tumbuh dan berkembang secara keseluruhan dan bekembang sesuai zaman.



Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X