Dr. Andreas Prasadja, RPSGT

Praktisi kesehatan tidur, konsultan utama Snoring & Sleep Disorder Clinic Pondok Indah, serta Snoring & Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran, pendiri @IDTidurSehat , penulis buku Ayo Bangun! anggota American Academy of Sleep Medicine.

Anak Suka Mendengkur Bisa Berujung Obesitas

Kompas.com - 28/11/2017, 19:03 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorLaksono Hari Wiwoho

ANAK yang mendengkur memang tampak lucu, tetapi ketika semakin parah malah jadi menyeramkan.

Ingatan saya terbawa pada pasien A, usia 8 tahun. Dari penampilannya, jelas ia tampak gemuk dan selalu mengantuk. Orangtuanya mulai menganggapnya tak wajar ketika A dilaporkan mengantuk dan tertidur di kelas. Sebelumnya tak pernah terpikir bahwa dengkuran A yang menyebabkannya.

Mendengkur menjadi gejala utama dari sleep apnea yang artinya henti napas saat tidur. Pada orang dewasa, kondisi itu menyebabkan hipertensi, penyakit jantung, diabetes, stroke, impotensi, dan kematian. Adapun pada anak-anak akan mengganggu daya tahan tubuh dan tumbuh kembangnya.

Belakangan, para ahli menemukan bahwa anak yang mendengkur akan tumbuh dewasa menjadi obesitas.

Ini agak membingungkan pembaca kebanyakan karena adanya anggapan bahwa kegemukan membuat orang mendengkur, kenyataan yang menyatakan sebaliknya jadi terdengar aneh. Ngorok bikin gemuk!

Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Christos S Mantzoros, seorang ahli endokrin, menemukan hubungan timbal balik antara mendengkur dan obesitas pada anak. Semakin parah tingkat mendengkur, semakin parah gangguan metabolismenya hingga semakin parah juga obesitasnya.

Penelitian sebelumnya pada hewan menemukan bahwa tidur dari induk akan menentukan sistem metabolisme generasi berikutnya.

Saat hamil, kondisi oksigen dalam kandang dibuat naik-turun meniru kondisi sleep apnea. Akibatnya, anak yang laki-laki lahir lebih besar dan memiliki nafsu makan lebih tinggi. Kadar kolesterol, trigliserid, dan insulin juga tinggi.

Ini adalah penanda biologis akan munculnya diabetes dan penyakit jantung dan pembuluh darah nantinya.

Tim peneliti yang penelitiannya diterbitkan pada jurnal Metabolism ini kemudian melihat data dari Project Viva, sebuah survei yang dilakukan oleh Atrius Harvard Vanguard Medical Associates, sebuah jaringan klinik di Massachusetts, AS.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.