Membiasakan yang Tidak Biasa

Kompas.com - 04/06/2019, 19:45 WIB
Ilustrasi menolak makan sayurgpointstudio Ilustrasi menolak makan sayur

KOMPAS.com - Di tengah kerepotan yang membuat saya akhirnya jadi perempuan multi-tasking, belanja kebutuhan rumah menggunakan aplikasi ponsel dan layanan antar menjadi ‘permainan baru’ yang cukup mengasyikan.
 
Sebatas belanja kebutuhan lho ya, bukan belanja makanan jadi. Awalnya cara baru ini agak menjengkelkan, karena saya belum fasih menyusuri ‘rak dunia maya’ yang pengelompokannya sedikit berbeda dengan rak swalayan sesungguhnya.
 
Lebih menjengkelkan lagi ketika barang yang saya mau tidak ada dan si pembelanjanya bolak balik menulis pesan yang tidak saya jawab dan akhirnya dia telepon.
 
Di sisi lain, saya juga mengajari pasien kebiasaan baru yang bagi saya bukan hal baru – melainkan cara klasik menata hidup: mulai dari rencana menu hingga keseharian hidup - yang tadinya mereka anggap tidak mungkin.
 
Saya sampai mengandaikan tahapan orang membangun rumah: yang tidak mungkin tanpa rancang bangun apalagi estimasi biaya tahu-tahu pergi belanja semen, pasir, bata dan kawan-kawannya.

Baca juga: Pola Asuh: Keterampilan, Komitmen, dan Jadi “Kulino”
 
Berbelanja kebutuhan dapur dan rumah bagi kebanyakan masyarakat kota kerap kali seperti bagian dari ‘rekreasi’ ke swalayan atau mal.
 
Sayangnya, sepulang belanja, bahan-bahan mentah itu hanya teronggok di lemari pendingin, bahkan bisa beku berminggu-minggu menunggu waktu saat sang nyonya punya masa untuk mengolahnya.
 
Tak jarang ada ibu muda yang bertanya berapa lama ayam mentah atau ikan awet di freezer – sambil menunggu wangsit hendak dimasak apa. Pun jika sudah punya keinginan masak, masih saja ada yang mengganggu: tiba-tiba teringat salah satu bumbu belum lengkap. Mundur lagi.
 
Dunia yang sudah diberi perangkat kepraktisan dan kemudahan membuat manusia terlena dan mudah teralihkan dari masalah yang mestinya mendapat penyelesaian dari akar perkaranya.
 
Tapi belakangan ini kita diajarkan untuk lompat mencari solusi. Alhasil, urusan masak apalagi merancang menu dianggap kadaluwarsa, kuno, lewat jaman.
 
Padahal jika mau disimak, ini bukan melulu perkara ‘mau makan apa’. Tapi soal membuat rencana, untuk menghalau bencana. Jika bencananya hanya diprediksi urusan lapar perut, memang solusi akhirnya cukup dengan membeli makanan jadi. Begitu saja kok repot.

Baca juga: Ketika Manusia Tak Bisa Melihat Versi Terbaik dari Dirinya
 
Tanpa disadari, kebiasaan hidup tidak berencana akhirnya merambat kemana-mana. Bencananya kali ini bukan soal perut lapar saja. Melainkan sudah lebih besar lagi: mulai dari tujuan menuntut ilmu hingga membangun keluarga.
 
Banyak mahasiswa saya punya kesulitan dengan masalah pengaturan waktu menyelesaikan tugas di akhir semester. Mereka tidak pernah dilatih menyusun jadwal harian, apalagi menjadi persisten seratus persen dengan apa yang dilakukannya. Termasuk bermain seratus persen.
 
Ketika saatnya belajar, disana-sini ponsel berbunyi dan menarik untuk dibuka. Akhirnya waktu benar-benar mereka harus main (dan berpuas diri menatap ponsel) urusan perkuliahan pun ada yang menggelitik untuk diintip – karena belum tuntas. Bisa dibayangkan ngeri-ngeri sedapnya generasi ini masuk dunia kerja, apalagi menjadi calon orangtua.
 
Eh, memang tidak ada sekolahnya untuk jadi orangtua – apalagi orangtua yang paham soal hidup sehat.
 
Bukan cuma makan sehat, tapi sungguh-sungguh melakoni gaya hidup sehat – yang tidak sama seperti ajaran para selebrita atau endorser jualan produk kesehatan.
 
Hidup sehat yang sesungguhnya jauh dari kata praktis apalagi mudah. Makanya tidak bisa dijual, apalagi secara instan diadopsi.
 
Tapi anehnya, membiasakan yang baik justru jauh lebih menantang (jika tidak mau dikatakan sulit) ketimbang membiasakan yang sebaliknya.
 
Betapa mudahnya membiasakan anak-anak bermain ponsel dan menjadi kecanduan. Tapi coba ajari mereka punya kebiasaan membaca buku atau menyicil belajar sebelum ulangan umum.
 
Betapa cepatnya seorang remaja mengoperasikan berbagai aplikasi dunia maya atau terikat dengan kebiasaan jajan sambil ngopi.
 
Tapi dijamin, tak ada yang sanggup membuat mereka rajin mencatat pengeluaran apalagi menyisihkan waktu untuk membaca buku bermutu di sela-sela waktu.

Baca juga: Teknologi Bisa Dipercepat, Sementara Kehidupan Harus Tetap Taat Kodrat
 
Dari salah satu teori yang pernah saya pelajari dan akhirnya praktikkan, manusia memang tidak secara langsung dapat mengenali atau merasakan manfaat positif dari perubahan perilakunya yang di luar kebiasaan atau zona nyaman masing-masing.
 
Apalagi, jika perubahan perilaku itu datangnya akibat dari keterpaksaan. Dibutuhkan orang lain untuk bisa mengajaknya menandai perubahan kecil yang jika diakumulasi baru bisa memberikan hasil seperti yang diharapkannya.
 
Kebanyakan orang hanya bisa menghargai suatu perubahan jika hasilnya fenomenal, signifikan dan fantastis. Padahal proses hidup tidak pernah seperti itu. Kita tidak dilahirkan untuk langsung bisa berjalan dan mencetak gol di lapangan bola.
 
Mengajak orang untuk merangkul kembali kemanusiaan dan kebutuhan intrinsiknya pun susah setengah mati. Bahwa orang normal layaknya minum air, bukan soda. Bahwa orang sehat mestinya rajin bergerak, bukan ngemil di depan televisi. Pada akhirnya kebablasan kebiasaan hidup membuat kita menghabiskan begitu banyak uang untuk ‘re-programming’ manusia.
 
Setengah abad lebih manusia berputar-putar menemukan formulasi susu pengganti ASI, yang akhirnya menimbulkan banyak masalah ketimbang manfaatnya – sehingga sekarang dibutuhkan kampanye besar-besaran dan pelatihan melelahkan untuk membuat ibu-ibu kembali menyusui anaknya.
 
Begitu pula dunia maju saat ini sudah mengumpulkan begitu banyak bukti bahwa makanan ultra proses – sebut saja hasil pekerjaan industri pangan – terbukti membuat umur semakin pendek, sehingga anjuran kembali ke makanan alamiah dan balik mengolah makanan sehat di dapur masing-masing menjadi kebutuhan yang amat mendesak.
 
Semoga kita belum terlalu terlambat untuk memulainya, membiasakan kembali hal-hal yang tidak biasa – padahal dahulu leluhur kita sudah amat terbiasa melakukannya.

Memaafkan diri sendiri untuk kebiasaan-kebiasaan yang terlanjur salah, juga memaafkan orang-orang lain yang pernah memberikan anjuran praktis, tapi membuat kesehatan menurun drastis. Semoga niatan kembali ke fitri selalu mendapat kemudahan. Minal Aidin wal Faidzin.

Baca juga: Generasi Milenial Perlu Kenal Bedanya Makan “Beneran” dan Camilan

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X