Generasi Milenial Perlu Kenal Bedanya Makan “Beneran” dan Camilan

Kompas.com - 02/03/2019, 09:59 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

KOMPAS.com - Bepergian, terutama ke tempat yang jauh dari rumah, bagi saya barangkali agak beda dengan kebanyakan orang. Apalagi, jika saya kembali ke kota atau desa yang sama setelah sekian tahun.

Seandainya bangunan dan pemandangannya masih sama, biasanya yang berubah cepat justru perilaku makan orang.

Di kota kecil atau lebih tepatnya daerah di mana komunitas tradisional masih kental terasa, mustahil jam 3 sore masih ada rumah makan atau warung yang buka.

Begitu pula di malam hari, jangankan tempat nongkrong, toko-toko pun tutup begitu senja mulai turun.

Di negara maju, masih ada kota yang bertahan dengan siklus seperti itu. Seandainya pun ada ‘kehidupan malam’ – maka hanya di area yang amat terbatas, dan pengunjung tetapnya dapat dikenali, walaupun belum tentu saling menyapa.

Baca juga: Ironi Korelasi antara Ekonomi dan Literasi Gizi

Kebanyakan rumah makan Tionghoa di Pecinan, ketika saya masih kecil punya tradisi ‘jam istirahat’ yang biasanya antara jam 14.00 hingga 18.00.

Sekali pun belum tentu pintunya tertutup rapat, babah pemilik kedai nampak leyeh-leyeh di atas kursi rotannya sambil mengipasi tubuhnya yang hanya berbalut kaos singlet dan celana pendek.

Hidup tenang ‘secukupnya’ seperti itu sudah makin langka. Sekarang ini, restoran buka non-stop, mulai jam 10 pagi hingga 10 malam. Apalagi versi cepat saji – ada yang 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu.

Berdalih melayani pelanggan, sebetulnya omset pun dikejar. Sewa tempat mahal, gaji pegawai tak bisa ditunggak, bahan mentah yang sudah setengah jadi tak boleh jadi basi.

Pusat perbelanjaan yang hidup 12 jam sehari mendukung jaminan pembeli dan pelanggan yang kecanduan.

Jika awalnya disebut melayani kebutuhan konsumen, justru fenomena terbalik bisa muncul: gerai makanan yang ada menimbulkan kebutuhan baru: snacking – alias kudapan.

Baca juga: Resep Kebahagiaan: Jiwa dan Raga di Usia yang Sama

Arena food court atau pusat jajanan serba ada di berbagai mal besar, seperti Jakarta dan sekitarnya, justru sekarang memperlihatkan fenomena menarik, anak-anak sekolah menyelesaikan PR didampingi pengasuh atau ibu masing-masing, dan sebagian wajah mahasiswa berkutat di depan laptopnya.

Hal yang sama dari mereka semua: ditemani satu gelas plastik minuman bergula kekinian dan sepiring kudapan.

Di beberapa sudut juga ada grup magang yang berbincang-bincang dengan calon kliennya untuk menambah isi portfolio. Sama juga, wadah minuman ukuran venti dan pastinya bukan air minum biasa.

Jika mereka ini usai dengan urusan masing-masing di sekitar waktu maghrib, pastinya perut dan gula darah sudah melebihi porsi.

Baca juga: Keamanan Pangan dan Ketahanan Pangan: Di Dunia Manakah Kita?

Saya kenal dengan seorang wanita karier yang saking suksesnya membutuhkan pengasuh yang disebutnya Nanny bagi kedua anaknya. Dan laporan Nanny selalu memuaskan. Sore hari, anak-anak sudah selesai membuat PR – dan ‘makan’ di mall.

Berhubung sang nyonya mengamini bahwa mi, roti, spageti sama saja dengan nasi, maka ia setuju-setuju saja ketika sang Nanny melapor bahwa anak-anak sudah makan malam berupa roti isi kornet dan satu kotak susu rasa coklat.

Keesokan harinya, makan malam mi ayam jamur dengan fruit punch. Keesokan harinya lagi, sang Nanny memilihkan pizza keju bertopping sosis dan bonus jus jeruk. Sehat dong, kata mereka. Duh.

Sebetulnya saya penasaran dengan tanggapan pembaca saya terhadap menu-menu di atas. Tapi tanpa perlu ‘meracuni’ pendapat pribadi setiap orang, izinkan saya bertanya: apa bedanya kudapan dengan makan ‘beneran’? – yang artinya 3 waktu makan utama yang normalnya disebut sarapan, makan siang, dan makan malam.

Baca juga: “Germas” Masih Tahap Marketing: Menanti Disrupsi Terjadi

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X