Anak Korban Kekerasan Seksual Berpotensi Jadi Predator Seks - Kompas.com

Anak Korban Kekerasan Seksual Berpotensi Jadi Predator Seks

Dian Maharani
Kompas.com - 23/10/2015, 13:00 WIB
Thinkstockphotos Ilustrasi
JAKARTA, KOMPAS.com - Tindakan kekerasan seksual pada anak mengancam masa depan mereka yang masih panjang. Dampaknya pada anak tak hanya luka fisik, gangguan cemas, depresi, atau stres, tetapi juga trauma psikologis jangka panjang.

Dampak yang sangat mengkhawatirkan lainnya, yaitu anak berpotensi menjadi predator seks pada saat dewasa.

"Sebanyak 5 sampai 15 persen pelaku adalah pria yang mengalami pelecehan seksual saat masih anak-anak," ujar dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Suzy Yusna Dewi dalam seminar di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Herdjan, Grogol, Jakarta Barat, Kamis (22/10/2015).

Salah satu contoh nyata, yaitu kasus Andri Sobari alias Emon yang melakukan kekerasan seksual pada ratusan anak di Sukabumi. Emon ternyata sebelumnya adalah korban kekerasan seksual saat masih SMP.

Menjadi korban kekerasan seksual merupakan peristiwa yang sangat membekas bagi anak. Anak akan menunjukkan tanda-tanda telah mengalami kekerasan seksual yang terkadang tidak disadari orangtua.

Untuk itu, sangat penting membawa anak yang menjadi korban kekerasan seksual ke psikiater anak dan remaja.

"Jadi anak yang menjadi korban harus menjalani terapi," kata Ketua Bidang Asosiasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja Indonesia ini.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menambahkan, terapi menjadi salah satu cara untuk memutus mata rantai kekerasan seksual pada anak. Untuk itu, dalam kasus kejahatan seksual jangan hanya fokus pada pelaku, tetapi juga korban yang masih memiliki perjalanan panjang dalam hidupnya.

PenulisDian Maharani
EditorLusia Kus Anna
Komentar
Close Ads X