Nyeri Haid Bisa Jadi Gejala Endometriosis

Kompas.com - 20/01/2009, 01:11 WIB
Editor

Semarang, KOMPAS - Nyeri menjelang menstruasi dapat menjadi gejala endometriosis, yaitu keadaan pada saat darah menstruasi masuk ke dalam rongga perut dan tumbuh di organ tubuh. Gejala ini berbahaya karena berpotensi menyebabkan infertilitas atau kemandulan.

”Endometriosis merupakan penyakit penting penyebab infertilitas pada perempuan. Sebanyak 20-40 persen perempuan infertil adalah penderita endometriosis,” kata Ketua Himpunan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Indonesia (Hiferi) Cabang Semarang Noor Pramono di Kota Semarang, Senin (19/1).

Endometriosis terdiri atas sel-sel endometrium yang membentuk perlekatan di suatu organ. Perlekatan ini kemudian menyebabkan nyeri luar biasa yang dirasakan perempuan sebelum, saat, dan sesudah menstruasi.

”Perempuan akan merasakan nyeri yang luar biasa saat haid, saat berhubungan seks, dan bahkan saat buang air besar. Oleh karena itu, segera periksakan diri ke dokter untuk memastikan penyakit yang diderita. Semakin cepat endometriosis terdeteksi, penanganannya semakin mudah,” ujar Noor.

Penyakit ini dapat menyebabkan infertilitas karena perubahan anatomi ovarium, gangguan perkembangan janin, serta berkurangnya fungsi endometrium untuk menerima implantasi. Semakin tinggi tingkat keparahan penyakit, kemungkinan penderita infertil semakin tinggi.

Sulit sembuh total

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi Rumah Sakit Dokter Kariadi Semarang, Fadjar Siswanto, mengatakan, orang yang terkena kasus endometriosis sulit untuk sembuh total. Meski telah dioperasi, tingkat kekambuhan penyakit itu tergolong tinggi sehingga memerlukan pengawasan yang ketat.

Belum diketahui pasti penyebab utama terjadinya penyakit ini. Fadjar menyebutkan, ada dua kemungkinan penyebab utama penyakit ini, yaitu faktor genetik dan faktor polutan yang tinggi. Faktor genetik, menurut dia, belum ditemukan pencegahannya, sedangkan yang disebabkan oleh polutan dapat dicegah dengan menjauhkan diri dari sumber-sumber polusi.

”Penanganan penyakit ini biasanya dua macam, yaitu dengan operasi dan dengan terapi hormon. Biasanya dokter menerapkan keduanya, tergantung tingkat keparahan penyakit. Namun, selama ini belum ada standar penanganan yang sama di antara dokter spesialis kandungan,” kata Fadjar.

Oleh karena itu, Pekan Ilmiah Berkala IV Hiferi Perkumpulan Obstetri Ginekologi Indonesia (POGI) 2009 diadakan untuk mencapai kesepahaman mengenai penanganan kasus endometriosis. Fadjar yang juga Ketua Panitia PIB IV Hiferi POGI menambahkan, nanti akan dibentuk satuan tugas yang akan menyusun semacam panduan bagi para dokter spesialis kandungan se-Indonesia untuk menangani endometriosis. (UTI)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.