Kanker Payudara, Perspektif Lain...

Kompas.com - 15/01/2010, 08:25 WIB
Editoracandra

Oleh Maria Hartiningsih

Diskusi kanker payudara di Kompas beberapa waktu lalu merupakan diskusi sangat penting, khususnya menyangkut kesehatan reproduksi perempuan dan sangat terkait dengan masalah kesehatan masyarakat.

Data memperlihatkan, di Rumah Sakit Kanker Dharmais saja, dalam lima tahun terakhir (2003-2008), jumlah penderita kanker payudara meningkat tiga kali lipat. Jumlah itu bisa dilihat sebagai puncak gunung es, karena bisa jadi, kasus yang tidak dibawa ke rumah sakit, dengan alasan apa pun, jauh lebih banyak.

Sayangnya dalam diskusi itu, pendekatan kesehatan masyarakat hanya disinggung amat sekilas. Pendekatan lain, seperti pendekatan sosiologi, antropologi, psikologi, filsafat, bahkan yang terkait dengan urusan medis seperti antropologi medik, sama sekali tidak disentuh.

Diskusi lebih didominasi oleh perspektif kedokteran, termasuk kemutlakan operasi dan kemoterapi untuk menyelamatkan penderita, serta segala upaya klinis untuk mengenali indikasi kanker payudara pada stadium paling awal.

Pendekatan itu, dari perspektif di luar medis, membuat tubuh ibarat medan pertempuran. Sel kanker dalam jumlah kecil tetapi sangat agresif, menyerbu dan mengalahkan sel-sel sehat, dan pasien dibombardir dengan sinar-sinar beracun.

Kemoterapi bisa dipandang sebagai perang kimia di dalam tubuh: musuh adalah ”Liyan” tak bernama yang harus dihancurkan. Tubuh menjadi sesuatu yang asing dari rasa kebertubuhan; suatu paradoks yang memisahkan dua yang sesungguhnya satu.

Mengobati tubuh dengan memisahkannya dari rasa kebertubuhan, mengutip pandangan Robert Augros, R & Stanciu G dalam The New Biology: Discovering the Wisdom in Nature (1987), membuat tubuh dipandang tak lebih dari kesatuan tatanan (unity of order), padahal makhluk hidup adalah kesatuan substansi (unity of subtance).

Kesatuan substansi tubuh manusia, seperti dijelaskan oleh dr Tan Shot Yen M.Hum (2009), memberi keunikan manusia dari tingkat mikromolekuler hingga makromolekuler dengan kekhasan DNA-nya, hemoglobin, enzim, protein yang mampu menandai pemilik tubuhnya (signature of its owner). Oleh karena itu, kerusakan salah satu organ tubuh manusia tidak semena-mena bisa diganti sebagaimana mengganti suku cadang mesin yang tak punya karakteristik.

Serba instan

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X