"Learning Goals".... Itulah Tanggung Jawab Sekolah pada Anak Didik

Kompas.com - 25/01/2010, 10:48 WIB
Editorlatief

JAKARTA, KOMPAS.com — Anak-anak didik datang ke sekolah bukan untuk dites dan diuji semata dalam bentuk nilai atau angka-angka, seperti saat ini yang tengah terjadi pada Ujian Nasional (UN).

Anak didik adalah subyek pendidikan, yang justru harus mengetahui learning goals (tujuan pembelajaran) sesungguhnya atas semua yang pernah dipelajari dan diterimanya di sekolah. Untuk itu, ujian bagi anak didik tidak cukup hanya berpegang pada satu sisi, yaitu kemampuan akademik mereka, yang hanya dibuktikan dengan angka-angka.

Demikian diungkapkan oleh Managing Director Sekolah High/Scope Indonesia (SHI) Antarina SF Amir dalam seminar dan Open House SHI: "Changing, So Why Choose a School That Hasn't Changed?" di SHI TB Simatupang, Sabtu (23/1/2010).

Antarina mengatakan, kewajiban pendidik memberikan ujian kepada anak didiknya harus didasarkan pada dua hal, yaitu kemampuan analisis dan soft skills.

"Apakah anak didik sudah mampu menganalisa setiap materi yang diberikan oleh si guru dan apakah dia bisa menceritakan kembali berdasarkan kemampuan analisanya tentang materi itu kepada orang lain, baik itu temannya maupun gurunya, itulah yang harusnya diujikan," kata Antarina.

Dia menambahkan, dengan cara itulah, evaluasi kemampuan anak didik lebih bisa dipertanggungjawabkan, baik kepada sekolah, orangtua murid, maupun anak didik itu sendiri. Siswa tidak perlu membohongi diri sendiri dengan berbuat curang atas nilai-nilai yang pantas diraihnya. Pendidik pun bisa mengerti sejauh mana anak didiknya menyerap materi.

"Orangtua pun tidak perlu risau akan kemampuan anaknya, apalagi sampai harus memberi tekanan mental hingga si anak dinggap telah berprestasi," ujarnya.

Hilmi Panigoro, orangtua siswa SHI, mengatakan, kemampuan analisis anaknya saat ini bisa dilihat dengan kemampuannya mempresentasikan ide dan melaksanakan ide-ide itu. Hilmi menyayangkan dunia pendidikan di Indonesia yang saat ini kurang meng-encourage seluruh potensi anak didik untuk bisa seperti itu.

"Potensi mereka tidak dikembangkan karena anak-anak didik itu sendiri dibuat tidak merdeka dengan ide-idenya, mereka terpasung untuk berprestasi dengan angka-angka," ujar Hilmi.

Sementara itu, menurut Indi Handoyo, orangtua siswa lainnya yang hadir di seminar itu, pembinaan pola pikir anak tidak akan pernah bisa dikembangkan jika fokus pembelajaran di sekolah hanya pada nilai-nilai akademik yang berupa angka-angka di rapor.

"Saat ini rasa percaya diri anak saya benar-benar keluar dan dia seperti tidak pernah takut salah untuk mengeluarkan pendapatnya. Saya merasa pembinaan terhadap pola pikirnya sudah berhasil ditanamkan oleh sekolah," ujar Indi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.