Masih Pantaskah PR Disertai Hukuman?

Kompas.com - 05/02/2010, 15:28 WIB
Editorlatief

JAKARTA, KOMPAS.com — Penegakan disiplin masih identik dengan sanksi dan ancaman. Hanya karena tidak atau belum selesai mengerjakan pekerjaan rumah (PR), haruskah penegakan disiplin itu pantas diberlakukan pada siswa saat ini?

"Nyatanya itu berlaku pada anak saya," ujar Astari Cecillia, (39), orangtua siswa yang menyekolahkan anaknya di salah satu SD swasta ternama di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Perempuan yang akrab disapa Tari ini menuturkan, putranya, Antonius R (17), pernah dua kali mengadu. Lantaran PR yang tidak selesai dikerjakannya di rumah, sang guru marah. Bukan hanya marah, putranya pun diberi hukuman dengan menambah jumlah PR hingga dua kali lipat. Datang ke sekolah pun harus setengah jam lebih awal dari biasanya.

"Apa iya begini caranya mendidik anak saya? Tadinya saya tidak percaya, tapi kenyataannya memang begitu. Menyesal juga saya sekolahkan dia di situ," ucap Astari.

Harus aplikatif

PR yang disertai hukuman atau sanksi adalah masalah klasik dari dunia pendidikan Indonesia. Sampai saat ini hal itu masih terjadi dan menjadi bukti bahwa sekolah yang berada di ujung tombak terdepan layanan pendidikan justru menjauh dari nilai-nilai luhur yang dulu sempat melekat. Melatih disiplin dengan memberikan PR kepada anak didik menjadi identik dengan tekanan dan kesalahan yang diganjar dengan hukuman.

"Akhirnya PR malah menjadi tekanan dan membuat siswa stres di rumah dan di sekolah, ini adalah buah dari rangkaian masalah pendidikan kita," kata pengamat pendidikan Dr Anita Lie kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (5/2/2010).

Anita mengatakan, sudah tidak sepantasnya sanksi atau hukuman itu menjadi ganjaran murid yang tidak 100 persen bisa menyelesaikan PR-nya. Dia katakan, pada akhirnya memberi PR justru tidak mendidik siswa.

"Tidak ada nilai edukatifnya dari cara-cara pemberian hukuman itu. Seharusnya, sebelum memberikan PR guru memang sudah betul-betul tahu dalam rangka apa memberikan PR, sehingga dia sudah bisa menakar antara kemampuan siswa dan bobot PR yang diberikannya," ujarnya.

Anita menambahkan, PR memang cocok digunakan untuk pemantapan materi yang sudah diberikan oleh guru di kelas. Namun, alangkah baiknya PR yang diberikan juga bisa mengaitkan antara materi di kelas dan kehidupan sehari-hari di rumah, seperti membuat sebuah project berdasarkan materi pelajaran.

"Sudah saatnya PR jangan lagi hanya terpaku untuk dikerjakan di buku. PR harus aplikatif dengan kehidupan nyata," tambah Anita.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.