Kain Solo Abad 18 akan Dipajang di Singapura

Kompas.com - 07/10/2010, 14:53 WIB

KOMPAS.com - Demi menjaga agar kebudayaan daerah asalnya tidak terhilang begitu saja, keturunan langsung dari keluarga Mangkunegaran Solo, Atillah Soerjadjaja, menulis dan memproduseri sebuah pementasan drama tari epik yang akan dipentaskan di luar negeri. Kisah cinta antara Raden Mas Said dan Rubiah yang menjadi cikal bakal terbentuknya Mangkunegaran Solo dipentaskan dalam bentuk drama tari berdurasi 90 menit. Pementasan perdananya akan mengambil tempat di Esplanade Theatre, Singapura, pada tanggal 22-23 Oktober 2010 sebagai pertunjukkan pembuka dari program 2 hari Pesta Raya: Malay Festival of Arts. Ingin total, Atillah memboyong kostum asli masyarakat zaman tersebut.

Menjadi keturunan langsung dari kerajaan Mangkunegaraan Solo membuat Atillah memiliki akses ke tempat-tempat bersejarah, termasuk kepustakaan demi membuat cerita dan sejarah yang diceritakan tetap orisinil. Salah satu yang ingin ia utarakan tetap orisinil adalah koleksi pakaian Solo yang indah. Atillah mengajak seniman Sri Astari dan Jay Subiakto untuk memberi masukan artistik mengenai penampilan kostum para pelakon yang akan tampil.

Usai konferensi pers mengenai keberangkatan pementasan yang bertajuk Matah Ati itu, Atillah mengatakan, "Untuk kostum, ada beberapa koleksi batik dan perhiasan milik Iwan Tirta dari abad ke-18 yang akan kami gunakan. Tetapi ada pula replikanya yang dibuat di tahun 1970-an. Masing-masing sudah diberikan stiker oleh Iwan Tirta lengkap dengan keterangan, dan itu masih ditempel dan dikenakan sangat hati-hati."

Ada sekitar 60 koleksi busana asli milik Iwan Tirta yang digunakan, mulai dari kain lurik, baju petani, dodot, bedoyo, dan beberapa kain penari utama. "Iwan Tirta diberikan kehormatan untuk memelihara busana-busana koleksi Mangkunegaran Solo dan ia satu-satunya yang diberikan kewenangan untuk membuat replikanya. Kebetulan kediaman almarhum Iwan Tirta berdekatan dengan tempat tinggal saya. Jadi, saya beberapa kali seminggu main ke tempat beliau, dan mendengarkan cerita-cerita dari beliau. Saya diberikan mandat untuk merawat kain-kain tersebut," ungkap Atillah.

Sri Astari, seniman yang dipercaya untuk menangani kostum bertutur, "Karena ini adalah drama tarian pada abad ke-18, maka mau tak mau bentuk busananya adalah kostum abad tersebut. Namun, di beberapa pakaian, tetap akan ada modifikasi demi kepraktisan untuk para penari. Misal, ikat pinggang supaya pakaian tidak turun, kami pakai tambang berwarna senada busana. Dalam proses riset, Atillah membawa kita lebih dekat ke tempat-tempat bersejarah kedua tokoh (Raden Mas Said dan Rubiah). Misal, kostum Raden Mas Said saat masih menjadi rakyat biasa di Wonogiri adalah pakaian asli abad tersebut milik Iwan Tirta. Namun, ada beberapa perhiasan yang merupakan buatan, misal kalung Pananggalan yang dipakai Raden Mas Said."

Diakui oleh Sri Astari, karena pementasan ini adalah tarian, jadi mereka akan mengenakannya dengan cepat, itu pun sambil berlari-larian di panggung, akan disayangkan bila masyarakat internasional tidak bisa menikmati keindahan pakaian tradisional kita. Karenanya, rombongan ini memutuskan untuk membuat semacam pameran busana di bagian depan pintu masuk ruang pertunjukkan di dalam gedung. "Akan ada display kostum tari yang menggunakan bahan batik tua, juga koleksi Bapak Iwan Tirta sebagai bagian mengenang almarhum. Pakaian tersebut akan dipajang pada wayang golek seukuran orang (life-size) dan mengenakan ornamen perhiasan asli abad tersebut," jelas Sri Astari.

Sebagai informasi, pertunjukkan Matah Ati merupakan inisiasi dari Atillah pribadi dan mempresentasikannya langsung ke Esplanade Theatre, Singapura. Untuk proses produksi Atillah dibantu oleh beberapa pihak swasta dan biaya kargo, penginapan pemain, serta promosi di Singapura dibiayai oleh pihak Esplanade. "Pihak Esplanade sangat menantikan pertunjukkan kebudayaan asli semacam ini. Malah mereka mengajak sekitar 8 universitas di Singapura untuk menyaksikan pertunjukkan ini. Hingga sekarang, saya dapat info, bangku VIP sudah terjual habis," ungkap Atillah kepada Kompas Female. Setelah pertunjukkan di Singapura, Matah Ati akan pentas di Kuala Lumpur, Hong Kong, dan sedang proses ke Eropa.


EditorNadia Felicia

Close Ads X