Mengapa Harus Malu karena Tak Bekerja?

Kompas.com - 01/02/2011, 09:48 WIB
EditorDini

KOMPAS.com — Apakah Anda mendambakan bisa bergegas setiap hari berangkat ke kantor, berpenampilan menarik dengan blazer apik, punya kartu nama, dan mengandalkan ponsel untuk berkomunikasi? Bila demikian bayangan Anda mengenai dunia kerja, Anda perlu meluruskan lagi pengertian "kerja" itu sendiri.

"(Bekerja itu) enggak harus selalu di kantor, kok. Yang penting, dia punya kegiatan dan tak membuang waktu begitu saja. Jadi, ada sesuatu yang berguna atau bermanfaat," ujar psikolog Rieny Hassan. Nah, dengan definisi ini, bukankah "profesi" ibu rumah tangga juga sangat membanggakan?

Jangan merasa diri tak berguna lantaran cuma menjadi ibu rumah tangga. Justru dengan status tak bekerja, Anda bisa lebih optimal dalam merawat, mengasuh, dan mendidik sang buah hati. Bukankah dengan tak bekerja, Anda bisa melakukan fungsi keibuan dengan benar, hingga peluang untuk menciptakan situasi ideal bagi proses tumbuh kembang anak akan lebih besar pula?

Apalagi, seperti dikatakan Rieny, attachment berupa belaian dan sentuhan-sentuhan fisik sangat dibutuhkan anak, terutama pada masa-masa awal kehidupannya. "Lewat sentuhan-sentuhan ini akan tercipta kehangatan, kedekatan, kenyamanan, sekaligus memperkokoh basic trust anak," ujarnya.

Jangan lupa, di usia-usia awal, si kecil sama sekali belum bisa berpikir tentang konsep-konsep kasih sayang yang abstrak. Misal, tentang penerimaan ibu. "Apa anak mengerti bahwa ia disayang kalau tak pernah dibelai atau digendong ibunya? Kan, enggak," katanya. Atau, bagaimana Anda bisa betul-betul menunjukkan ekspresi kecintaan dan rasa sayang bila lebih banyak bersibuk diri di luar rumah dan mencurahkan perhatian buat kariernya?

Akan berbeda sekali hasilnya bila Anda hanya sesekali menyempatkan waktu menelepon dari kantor dan menanyakan, "Apa kabar, sayang?" atau melontarkan pertanyaan standar, "Sudah makan belum?" tanpa tahu persis bagaimana dan seberapa banyak porsi makannya.

Tetapi, kalau ibu tak bekerja, anak akan betul-betul merasa diperhatikan saat ia memperlihatkan keberaniannya memanjat, misalnya, atau justru saat menangis karena terjatuh. "Anak pun biasanya akan lebih berselera makan bila didampingi dan disemangati ibunya, 'Aduh, anak mama pintar, ya, sudah bisa makan sendiri'," ujar lulusan Fakultas Psikologi UI ini.

Bergantung pandangan si ibu
Sebenarnya, tutur Rieny, positif-negatifnya pandangan orang terhadap status ibu tak bekerja sangat ditentukan oleh pandangan si ibu sendiri, apakah yang bersangkutan menilai keberadaannya bermanfaat atau tidak bagi perkembangan anaknya. "Kalau secara sadar memutuskan menjadi ibu rumah tangga sejati, biasanya ia akan mengoptimalkan kehadirannya di tengah keluarga. Ia tahu benar, ada banyak hal yang bisa dilakukannya untuk kebaikan proses tumbuh kembang anak," ujar Rieny.

Soalnya, bukan cuma kebutuhan attachment yang harus dipenuhi, tapi proses tumbuh kembang anak pun harus bisa lebih terpantau secara detail. Dalam hal fisik, misalnya, kelengkapan imunisasi harus dipantau, kesesuaian berat badan, gizi anak, dan sebagainya sehingga anak lebih sehat dan betul-betul terurus dengan baik.

Jika ada keluhan atau gejala penyakit, bisa lebih cepat ketahuan dan tertangani karena ibu lebih kerap berada bersama anak. Nah, dengan kondisi anak yang membanggakan ini, secara tak langsung sebenarnya Anda juga sudah melakukan penghematan karena tak harus mengeluarkan biaya berobat atau bolak-balik membawa anak ke dokter, kan?

Tak perlu iri
Menjadi orang kantoran, ujar Rieny, juga tak selalu enak. Tak jarang pekerjaan membuat orang begitu terserap waktu dan pikirannya hingga saat tiba di rumah yang ada cuma rasa lelah dan keinginan untuk marah-marah tanpa sebab. Akibatnya, anak-anak bisa menjadi sasaran ketidakdewasaan dan ketakmampuan ibu menyelesaikan masalahnya di kantor. Padahal, orang yang bekerja dituntut memiliki kedewasaan dan kestabilan emosi tersendiri agar mampu memilah-milah konsentrasi dan beban kerja. Jadi, kalau beban kerja sampai terbawa ke rumah, berarti bekerja malah menciptakan masalah baru. Kalau sudah begitu, bukankah memang lebih aman bila ibu menempatkan kepentingan anak sebagai prioritas alias di rumah saja menjalani profesi sebagai ibu rumah tangga sejati?

Jadi, tak perlu malu dan iri dengan mereka yang kebetulan bisa "pegang" uang sendiri dari hasil keringatnya. Justru kita perlu belajar dari mereka bagaimana menghargai dan membelanjakan uang dengan bijak. Di mata Rieny, para ibu yang kondisinya mengharuskan bekerja umumnya memang lebih bisa menghargai uang, di samping juga lebih leluasa menggunakannya. Soalnya, mereka tahu persis mencarinya tidak mudah, sementara taruhan yang harus dibayarnya cukup mahal, yakni meninggalkan anak.

(Tabloid Nakita/Julie/Th. Puspayanti)

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X