Kelainan pada Perut Lukman Masih Misteri

Kompas.com - 12/07/2011, 14:36 WIB

PANGKEP, KOMPAS.com — Tim medis Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, masih mengalami kesulitan mendeteksi  kelainan pada perut Lukman Labbi (46), warga Kelurahan Sibatua, Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.  Lukman sudah sepekan ini menjalani perawatan intensif di ruang isolasi RSUD Kabupaten Pangkep.

Dikonfirmasi KOMPAS.com Selasa (12/7/2011), Direktur RSUD Pangkep Frans Demmanaba, menyatakan, dari hasil pemeriksaan sementara, kelainan pada perut Lukman akibat pembusukan jasad kembar siamnya yang telah meninggal sejak pasien bayi, sekitar 46 tahun lalu.

"Kembar siamnya sudah mati sejak pasien masih bayi. Kami belum tahu persis apakah kanker yang saat ini meradang di bagian perut pasien akibat pembusukan jaringan tubuh kembar siamnya atau bukan. Peralatan medis kami terbatas. Dokter spesialis yang menangani penyakit kasus tersebut juga tidak kami miliki. Memang harus dirujuk dan di operasi ke Makassar, namun pasien dan keluarganya menolak," katanya.

Lukman diduga memiliki kembar siam di bagian perutnya yang sudah mati. Kondisinya makin parah karena jaringan-jaringan jasad tersebut telah lengket dengan jaringan tubuh Lukman yang normal akibat adanya dua kehidupan atau kelainan konginental.

Kembar siam Lukman yang sudah mati, diketahui tanpa kepala, berukuran lebih kecil serta hanya memiliki satu tangan dan dua kaki, hingga kini terus mengalami pendarahan karena sudah membentuk satu luka.

"Kelainan tersebut termasuk kanker ganas yang dapat menyebar (metastase) ke organ-organ normal. Sejauh ini kami hanya memberikan perawatan medis terhadap kembar siam Lukman, yang mengalami luka dan telah membusuk," jelas Frans.

Secara terpisah, dr Nurdin, spesialis penyakit dalam RSUD Kota Parepare saat dimintai penjelasannya terkait kasus medis tersebut, justru membantah jika pembusukan jasad kembar siam pasien Lukman diklaim sebagai kanker.

Pasalnya, sejauh ini penyebab kanker sendiri belum diketahui secara pasti, dan temuan-temuan terkait penyebab kanker pun masih sebatas teori yang dihubungkan dengan banyaknya perilaku pasien yang terkena kanker. Seperti kanker paru-paru yang penderitanya identik perokok atau kanker hati (lever) yang penderitanya identik dengan minuman keras, disebut hanya teori atau hipotesa.

"Tidak ada hubungannya antara jasad kembar siam yang membusuk dengan kanker. Untuk mengetahui secara pasti, penyakit atau bakteri apa yang terdapat pada jasad pasien kembar siam, daging dari kembar siam yang telah membusuk di ambil sedikit, kemudian di opsi di laboratorium," katanya.

Dari kasus kembar siam, kata Nurdin, paling sulit dilakukan pemisahan ketika keduanya ingin dihidupkan. Tapi pada kasus Lukman labbi, katanya lagi, dinilai pihaknya lebih sederhana karena jasad kembar siam pada bagian perut telah mati sehingga lebih mudah di potong dan di tutup kembali. Peluang hidup pasien pun menjadi lebih besar.

"Memang memerlukan pemeriksaan lebih teliti sebelum dioperasi. Karena jangan sampai pemotongan tersebut, justru membahayakan pasien kembar siam yang masih hidup. Tapi dokter parti tidak akan melakukan operasi jika membahayakan pasien karena kami selalu memberi tindakan medis untuk upaya yang terbaik bagi pasien," katanya.

Saat ditanya mengenai jenis penyakit yang menimpa Lukman, Nurdin pun mengku belum dapat memberikan penjelasan. Karena ia belum melakukan pemeriksaan secara langsung kelainan pada tubuh lukman.



EditorAsep Candra

Close Ads X