Obat Impotensi Ilegal Paling Banyak Ditemukan - Kompas.com

Obat Impotensi Ilegal Paling Banyak Ditemukan

Kompas.com - 05/10/2011, 13:57 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Hasil Operasi Pangea IV yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada tanggal 20-27 September 2011 telah menyita sebanyak 57 item obat ilegal yang terdiri dari 1.611 buah dan sebanyak 50 persennya diketahui masuk dalam kategori obat impotensi atau disfungsi ereksi (DE).

"Obat yang disita kebanyakan obat disfungsi ereksi. Dan temuan ini tidak jauh berbeda dengan temuan Operasi Pangea III tahun 2010 yang diikuti 44 negara, dimana paling banyak obat disfungsi ereksi," kata Kepala Badan POM, Kustantinah saat jumpa pers mengenai Hasil Operasi Pangea IV, di Gedung BPOM, Rabu, (5/10/2011).

Menurut Kustantinah, dari 57 item obat ilegal tersebut, jika dirupiahkan bernilai Rp 87 juta. Namun ia menegaskan, fokus dari operasi ini bukan melihat dari nominal harga obat, tetapi dampak dari obat ilegal terhadap masyarakat.

"Hasil operasi menunjukkan ada tren baru, dimana ternyata ada juga obat yang meningkatkan libido wanita sebanyak 10 item (17,5 persen) yang diikuti obat jenis anestesi lokal dan obat penurun berat badan," tambahnya.

Kustantinah mengatakan, Operasi Pangea IV tahun 2011 diikuti serentak oleh 81 negara termasuk Indonesia dengan tujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap risiko kesehatan terkait obat, suplemen makanan ilegal serta produk palsu dengan sasaran penjualan produk ilegal atau palsu secara online

"Saya tidak tahu pasti mengapa banyak masyarakat yang mencari obat peningkat libido. Yang jelas kita mengimbau kepada masyarakat jangan membeli obat-obat tersebut melalui website. Banyak tersedia sarana-sarana pelayanan yang resmi, yang sudah jelas aman," tuturnya.

Ia menambahkan, ke-57 item obat yang disita oleh BPOM termasuk dalam kategori obat keras. Dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan, maka obat-obatan tersebut harus diperoleh dengan resep dokter dan tidak boleh dipromosikan dan diiklankan lewat media umum.


EditorAsep Candra

Close Ads X