Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Tentukan Pilihanmu
0 hari menuju
Pemilu 2024
Kompas.com - 02/05/2013, 20:22 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Desainer Era Soekamto tidak hanya mahir merancang busana, tapi juga berbisnis. Hampir 15 tahun ia jatuh bangun mengecap pengalaman sebagai perancang sekaligus pengusaha, hingga sekarang menjabat sebagai Direktur Kreatif Iwan Tirta Private Collection.

Dalam Festival Entrepreneur yang digelar di Jakarta, Kamis (2/5/2013), anggota aktif Indonesian Young Entrepreneur ini berbagi cerita dan pengalamannya. Semua berawal dari kecintaan terhadap bidang yang dia geluti, yakni fashion. Seiring berjalan waktu, ia dihadapkan pada realita bahwa ia harus terjun ke dunia bisnis, tidak sekadar merancang busana.

"Banyak sekali momen yang saya lewati, dari usaha kecil di garasi, tidak punya PT, tidak paham hukum bisnis dan industri kreatif, tapi dari sana saya tertantang," katanya.

Dalam prosesnya, Era lalu banyak belajar mengenai seluk-beluk bisnis. Mengenal dan memahami ekspektasi pelanggan, rekan kerja, investasi, hingga bertumbuh dan berkembang.

Menurutnya, baik bisnis retail ataupun project khusus masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Ketika dihadapkan pada masalah modal yang besar, mau tidak mau harus ada partner dan investor.

"Yang paling dahsyat pernah ditipu orang sehingga mengalami kesulitan dalam keuangan, tapi lagi-lagi bangkit," ujarnya.

Saat itu Era menyadari kalau jalan sendiri mengurus semua bidang usaha dari A sampai Z akan sangat melelahkan. Apalagi yang ia ingin bangun adalah integritas dan kepercayaan. Karena itu brand Era Soekamto dan Urban Crew menjadi label yang dikelolanya dengan serius.

Tawaran Iwan Tirta
Mei tahun lalu, Era bergabung dan menjadi direktur kreatif dari Iwan Tirta Private Collection (ITPC). Ini merupakan salah satu impiannya sebagai pekerja kreatif. Katanya, meski pengalaman melakoni bisnis sendiri itu asik, bagaimana pun ada ilmu yang bisa disalurkan dengan maksimal begitu didampingi manajemen bisnis yang solid. Sehingga, dia bisa fokus.

Ketika Iwan Tirta meninggal dunia dua tahun lalu, karyanya makin mendapat apresiasi publik yang  lebih tinggi. Pembentukan manajemen mesti mengimbangi prinsip Iwan yang idealis.

"Di sini, saya melihat bahwa hasil yang dikeluarkan bukan hanya menjadi komoditas untuk jualan saja, tapi juga membawa nilai tambah, sejarah," ungkapnya.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke