Bagaimana kalau Anak Sudah Tak Perawan?

Kompas.com - 26/08/2013, 14:38 WIB
Ilustrasi shutterstockIlustrasi
|
EditorFelicitas Harmandini
KOMPAS.com — Isu tes keperawanan pada remaja usia sekolah tentu saja membuat para orangtua jadi geram. Bagaimana tidak, di usia ini orangtua pasti berpikir bahwa anak-anak perempuan mereka masih perawan.

Namun, bagaimanapun juga usulan ini membuat orangtua jadi was-was tentang status anak perempuannya. Bukannya tidak percaya kepada si anak, tapi hanya memastikan saja kalau anak tetap mampu menjaga "mahkotanya".

"Karena berbagai penyebab, misal pergaulan yang tidak benar, coba-coba, atau kurang perhatian orangtua, remaja bisa saja terjerumus untuk melakukan seks bebas," ungkap psikolog keluarga Anna Surti Ariani, saat dihubungi KompasFemale.

Meskipun kita tidak berharap demikian, apa yang harus kita lakukan ketika mendapati kenyataan bahwa anak sudah tidak perawan lagi?

1. Menahan diri
"Ketika tahu anak remajanya sudah tidak perawan lagi, orangtua pasti shock dan marah. Ini adalah reaksi awal dan wajar," katanya.

Hanya saja ia menyarankan untuk tidak membiarkan emosi yang bicara. Tahan diri untuk tidak melakukan hal-hal buruk kepada si anak, atau diri sendiri.

Sekalipun marah, ada baiknya untuk tidak langsung mengungkapkan perasaan tersebut. Tak ada gunanya marah-marah dan melampiaskan emosi kepada anak, karena semuanya mungkin saja malah jadi bertambah buruk. Ambil waktu sebentar untuk menenangkan diri dan emosi Anda.

2. Mengobrol dengan kepala dingin
Setelah berhasil mengontrol emosi Anda, barulah ajak si anak ngobrol. Hanya saja, Anda tak boleh langsung menuding anak yang macam-macam. Misalnya, menuding anak bersalah karena sudah melakukan hubungan bebas, tidak punya moral, dan lainnya.

"Saat tahu kenyataan ini, bukan cuma Anda yang shock, tapi si anak juga shock. Apalagi kalau ternyata hilangnya keperawanan ini bukan karena hubungan bebas, melainkan perkosaan, atau justru olahraga keras," kata perempuan yang akrab disapa Nina ini.

Untuk mengantisipasi kesalahan "menebak" penyebabnya, sebagai orangtua Anda harus memberikan pertanyaan-pertanyaan terbuka. "Mulailah dengan menanyakan kepadanya apa yang terjadi sehingga hal ini bisa terjadi," jelasnya. Pertanyaan-pertanyaan yang menuding akan menutup peluang diskusi terbuka dengan anak, sehingga sulit menemukan jalan keluarnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X