Gusti Noeroel, Inspirasi Lintas Generasi

Kompas.com - 16/04/2014, 16:56 WIB
KOMPAS.com/Wardah Fajri Kepala Redaksi Penerbit Buku Kompas, Mulyawan Karim bersama penulis buku biografi Gusti Noeroel, Ully Hermono, saat peluncuran buku di kediaman Martha Tilaar, Jakarta, Rabu, 16 April 2014.
KOMPAS.com - Penerbit Buku Kompas kembali menerbitkan satu buku biografi inspiratif. Kali ini sumber inspirasinya adalah seorang putri Pura Mangkunagaran, bernama Gusti Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemawardhani atau Gusti Noeroel.

Gusti Noeroel adalah anak tunggal putra adipati Keraton Jawa, Kota Solo, Praja Mangkunagaran, K.G.P.A.A Mangkoenagoro VII dari permaisurinya, Gusti Kanjeng Ratu Timoer. Ayah Gusti Noeroel adalah seorang ningrat dari Solo yang beristrikan putri dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Ibu Gusti Noeroel adalah puteri ke-12 Sultan Hamengku Buwono VII dari permaisuri ketiga, GKR Kencono. Nama asli ibunya adalah G.R.Ay Mursudarijah.

Buku tentang Gusti Noeroel ini mengisahkan cerita kehidupan keluarga keturunan bangsawan yang mencontohkan kesederhanaan. Selain cerita bagaimana menjadi istri, ibu, juga perempuan muda yang mandiri serta mampu menyeimbangkan adat istiadat dengan modernisasi.

Dalam buku ini juga diceritakan sosok perempuan Jawa yang sederhana namun berani bereksperimen dengan gaya penampilannya, busana juga perawatan kecantikannya. Ia tak malu tampil berkebaya namun tetap bereksperimen gaya dengan busana konsep modern. Ia menyanggul rambutnya namun tak membatasi aktivitasnya seperti menunggang kuda, bertenis, berenang dan lainnya. Ia menguasai tarian klasik dan mendengarkan musik gamelan, namun tak anti lagu Barat. Tak ketinggalan, ia menjalani tradisi warisan budaya Keraton termasuk dalam hal kecantikan.

Bagi salah satu sahabatnya, pengusaha dan ahli kecantikan, Martha Tilaar, sosok Gusti Noeroel memberikan banyak inspirasi. Martha mengaku terpesona dengan kecantikan putri Keraton ini, lahir dan batin, fisik dan kepribadiannya.

Martha mengatakan, Gusti Noeroel merupakan perempuan Keraton yang rendah hati, bersedia membukakan pintu kepadanya untuk berbagi warisan ritual kecantikan Keraton. Ritual kecantikan warisan Keraton yang kemudian dikembangkan menjadi komoditas yang mempercantik wanita Indonesia dan Asia.

"Saya bertemu Gusti Noeroel pada tahun 70-an, saat itu usia saya 30-an. Ia berbagi pengetahuan mengenai filosofi jamu, pemakaian jamu sesuai siklus kehidupan, tradisi Keraton. Ia sangat cantik, bahkan tanpa make up sekalipun. Sudah cantik, ia juga tidak mau bergantung kepada orang lain, perempuan harus mandiri. Perempuan tidak membuat sedih orang lain, ia tidak mau menyakiti hati perempuan lain dengan tidak mau dimadu. Ia perempuan luar biasa. Tokoh kecantikan yang fashionable," kata Martha, yang membukakan pintu rumahnya untuk menyelenggarakan peluncuran buku Gusti Noeroel Mengejar Kebahagiaan di kawasan Kuningan Jakarta, Rabu (16/4/2014).

Proses singkat laku keras
Penulis buku, wartawan senior, Ully Hermono, "merajut" berbagai informasi dan cerita, termasuk perbincangannya langsung dengan Gusti Noeroel yang kini berusia 92. Ia meramunya menjadi sebuah bacaan inspiratif untuk generasi muda. Generasi yang barangkali tak semua mengenal sosok perempuan inspiratif dari Indonesia ini.

"Sasarannya sebenarnya anak muda," aku Ully.

Kumpulan artikel berisi profil Gusti Noeroel saat masih remaja (16 tahun) yang terbit di media lokal bahkan internasional, membantu Ully dalam merangkai kisah perjalanan ibu tujuh anak dengan 14 cucu dan empat buyut ini.

Proses yang terbilang singkat selama enam bulan, dengan mengolah data yang tersedia, serta wawancara dengan Gusti Noeroel di Bandung, dan tambahan informasi dari anak juga keponakannya, di Bandung dan Jakarta, menghasilkan sebuah buku setebal 285 halaman.

Mulyawan Karim, Kepala Redaksi Penerbit Buku Kompas, mengatakan buku Gusti Noeroel cetakan pertama berjumlah 3.200. Meski belum habis total, untuk memenuhi permintaan, penerbit tengah menyiapkan cetakan kedua.

Kaya makna
Membaca buku Gusti Noeroel memberikan banyak inspirasi dan membawa segudang makna, utamanya bagi perempuan. Di dalamnya juga terdapat banyak pelajaran berharga, mulai kesederhanaan, integritas, tata krama, pengasuhan anak, hingga sebagian kisah Keraton Solo yang makin memperkaya isi buku ini.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorWardah Fajri
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X