Gusti Noeroel, Inspirasi Lintas Generasi

Kompas.com - 16/04/2014, 16:56 WIB
Kepala Redaksi Penerbit Buku Kompas, Mulyawan Karim bersama penulis buku biografi Gusti Noeroel, Ully Hermono, saat peluncuran buku di kediaman Martha Tilaar, Jakarta, Rabu, 16 April 2014. KOMPAS.com/Wardah FajriKepala Redaksi Penerbit Buku Kompas, Mulyawan Karim bersama penulis buku biografi Gusti Noeroel, Ully Hermono, saat peluncuran buku di kediaman Martha Tilaar, Jakarta, Rabu, 16 April 2014.
Penulis Wardah Fajri
|
EditorWardah Fajri

Proses yang terbilang singkat selama enam bulan, dengan mengolah data yang tersedia, serta wawancara dengan Gusti Noeroel di Bandung, dan tambahan informasi dari anak juga keponakannya, di Bandung dan Jakarta, menghasilkan sebuah buku setebal 285 halaman.

Mulyawan Karim, Kepala Redaksi Penerbit Buku Kompas, mengatakan buku Gusti Noeroel cetakan pertama berjumlah 3.200. Meski belum habis total, untuk memenuhi permintaan, penerbit tengah menyiapkan cetakan kedua.

Kaya makna
Membaca buku Gusti Noeroel memberikan banyak inspirasi dan membawa segudang makna, utamanya bagi perempuan. Di dalamnya juga terdapat banyak pelajaran berharga, mulai kesederhanaan, integritas, tata krama, pengasuhan anak, hingga sebagian kisah Keraton Solo yang makin memperkaya isi buku ini.

Usai membacanya, mungkin Anda akan menemukan idola atau bahkan pandangan baru mengenai kehidupan kalangan bangsawan.

Komentar salah satu cucu Gusti Noeroel dalam buku ini menunjukkan, bagaimana kebiasaan berbagi cerita dalam keluarganya mengenai sosok eyang Putri membuatnya menemukan idola.

"Kami tahu eyang saat muda dari orangtua kami. Kami tertegun mendengarkan, walau tak bisa mengingat seluruh cerita perjuangan hidupnya. Betapa ia menjadi idola para pria, betapa gigihnya ia mengangkat menjaga harum nama dan martabat wanita pada zamannya. Eyang Putri adalah eyang tercinta dan idola saya," kata Alika Mitari, cucu dari puteri sulung Gusti Noeroel, B.R.Ay Parimita Wiyarti.

Sementara bagi Parimita, buku ini membawa banyak makna. Bukan semata biografi sosok perempuan yang layak menjadi inspirasi, namun juga menjadi pengingat sekaligus kritik kepada kalangan bangsawan.

"Orang berdarah biru ada yang sombong dan menganggap dirinya berbeda, mengagungkan dirinya sendiri. Mereka tidak mau berbaur. Ibu tidak mengajarkan itu karena kita sama-sama manusia, mengapa harus berbeda. Kami belajar merakyat dari ibu, tidak ada lagi feodalisme. Bangsawan yang sebenarnya adalah mereka yang merakyat, bukan yang memisahkan diri. Kalau ada yang sombong itu bukan bangsawan yang sebenarnya, itu Ndoro palsu," katanya kepada Kompas Female.


 

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X