Walau Masih Pro-Kontra, Tetap Mau Berikan Empeng kepada Bayi?

Kompas.com - 04/07/2014, 13:15 WIB
Ilustrasi. shutterstockIlustrasi.
EditorWardah Fajri
KOMPAS.com - Empeng alias pacifier banyak dimanfaatkan untuk menenangkan bayi sebab bayi masih dalam masa oral (memperoleh kenikmatan dengan mengisap). Namun hingga kini sebenarnya keberadaan empeng masih menimbulkan pro dan kontra.

Sebenarnya penggunaan empeng dianjurkan bagi bayi-bayi prematur maupun bayi-bayi yang kerap terserang kolik untuk menenangkan mereka. Bayi-bayi yang dirawat di NICU juga membutuhkan empeng karena mereka umumnya lama tidak minum dari dot.  Pemberian empeng bermanfaat untuk tetap merangsang refleks isapnya agar tidak hilang.

Bila tetap ingin memberikan empeng, hendaknya perhatikan hal-hal berikut:

• Untuk menghindari bingung puting, jangan memperkenalkan empeng di masa pemberian ASI eksklusif karena dapat mengganggu proses menyusui. Tujuannya juga supaya bayi mampu menguasai teknik menyusu dengan benar.
• Jangan memberikan empeng untuk menunda waktu menyusui. Sebelum memberikan empeng, pastikan bahwa bayi tidak sedang lapar. Kalau bayi lapar segera susui dia. Jika kita langsung memberikan empeng, daripada ASI, si kecil tentu akan kurang mendapatkan asupan gizi yang baik. Pun produktivitas ASI akan terganggu karena ASI diproduksi atas dasar supply on demand.
• Jangan terburu-buru memberikan empeng. Cobalah cara-cara lain terlebih dahulu untuk menenangkan atau membuat nyaman si kecil. Untuk bisa sukses mencari cara lain selain empeng, pelajari tangisan bayi. Apakah dia rewel karena hanya ingin digendong atau lapar? Penyebab nilah yang harus dicari.
• Batasi pemakaiannya. Gunakan empeng hanya pada saat-saat tertentu, bilamana berbagai cara sudah kita lakukan untuk menenangkannya tapi tidak juga ada yang berhasil.
• Pilih empeng orthodontic dan mempunyai pelindung yang berukuran lebih besar dari mulut bayi. Tujuannya, agar bayi tidak dapat memasukkan
seluruh empeng ke dalam mulutnya.
• Cuci empeng dengan sabun dan bilas dengan air hingga bersih. Lakukan setiap kali empeng tersebut kotor atau terjatuh ke lantai, atau setidaknya sekali sehari. Selalu sterilkan empeng (setelah dicuci).
• Jangan pernah mengikatkan empeng ke pita/tali panjang dan mengalungkannya ke leher atau tangan bayi, Salah-salah, si kecil malah bisa terjerat pita/tali empengnya.
• Buang karet empeng yang  sudah robek, usang, berlubang atau ada bagian yang lepas. Ganti empeng si kecil dengan yang baru, paling tidak dua bulan sekali. Lebih cepat juga tidak mengapa.
• Jika bayi menggigiti empengnya, beri ia teether sebagai gantinya. Ini untuk menghindari kalau-kalau ada serpihan empeng yang ia gigit menyangkut di tenggorokannya. Memberikan teether jauh lebih baik. Bayi bisa berlatih menggigit.
• Jangan gunakan dot yang ada di botol susu sebagai empeng.
• Jangan menyimpan empeng di dalam kantung plastik, karena lingkungan lembap di dalam plastik menyebabkan tumbuhnya jamur.
• Jangan memberikan madu atau zat manis lainnya pada empeng. Lagi pula, bayi  kurang dari satu tahun belum boleh mengonsumsi madu.
• Jangan berbagi empeng dengan anak/bayi lain.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X