Puisi Penuh Haru Seorang Nenek 92 Tahun tentang Penuaan

Kompas.com - 21/10/2015, 05:25 WIB
|
Editor Syafrina Syaaf

“Aku memandangi cermin dan melihat apa yang kulihat, seorang wanita tua yang mengintipku balik. Dia punya kantong mata, kulit mengendur, keriput, dan uban, lalu aku bertanya pada bayanganku, bagaimana kau bisa di situ? Kau dulu pernah kuat dan luar biasa, kini kau lemah. Aku bersusah payah menjagamu agar tak jadi benda antik.

Kedua mata bayanganku mengedip lalu dia menjawab, Kau sedang memandangi kertas kado dan bukan permata yang ada di dalamnya. Permata hidup yang begitu berharga, unik, dan jujur pada dirimu, satu-satunya di dunia.

Tahun demi tahun, waktu memanjakan kertas kado ini dengan hal lain yang lebih kejam sehingga membuat permata harus dimurnikan, dikuatkan, dan dipoles kembali.

Jadi, pusatkan perhatian pada apa yang ada di dalam dan bukan di luar.

Jadilah lebih baik, ramah, bahagia, dan penuh keyakinan. Kemudian, ketika kertas kadomu terkoyak, permatamu akan bebas, untuk mengilaukan kebesaran Tuhan dan menembus keabadian.”

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X