Hari Tidur Sedunia 2018, Pentingnya Tidur bagi Sendi Kehidupan

Kompas.com - 16/03/2018, 07:00 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

Setiap tahun, para pemerhati, ahli dan dokter di bidang kesehatan tidur merayakan Hari Tidur Sedunia. Setiap tahun Saya mengkampanyekan, selalu saja ada Netizen yang berkomentar lucu untuk tidur seharian selama hari tersebut.

Bukan, bukan itu yang dimaksud. Hari Tidur Sedunia bermaksud untuk mengampanyekan pentingnya kesehatan tidur bagi setiap sendi kehidupan kita. Target kami, jika Anda tahu pentingnya kesehatan tidur, perlahan mulai mendalami, mencoba sedikit dalam hidup sehari-hari, menarik kesimpulan dan akhirnya mulai memprioritaskan kesehatan tidur.

Kesehatan tidur berpengaruh langsung pada:
• Produktivitas, tak ada satu zat pun yang dapat menggantikan efek restoratif tidur. Kemampuan otak dan stabilitas emosional hanya dibangun saat tidur.

• Kesehatan, risiko penyakit tidur adalah hipertensi, diabetes, berbagai penyakit jantung, stroke, disfungsi seksual hingga kematian.

• Keselamatan, berkendara dalam keadaan mengantuk sama bahayanya dengan mabuk. Pendengkur misalnya, miliki risiko kecelakaan 15 kali lipat dibanding orang sehat.

Tema tahun ini adalah: Join the Sleep World, Preserve Your Rhythms to Enjoy Life; Turut Serta dalam Dunia Tidur, Jaga Irama Anda untuk Menikmati Hidup.

Ya, tahun ini kami berfokus pada irama. Manusia adalah makhluk irama. Kita lapar, buang air, mengantuk, penuh vitalitas, lemah, semangat, pada waktu-waktu tertentu. Tidakkah Anda perhatikan, pada jam setelah makan siang kita cenderung mengantuk? Kenyang? Bagaimana saat berpuasa? Mengantuk juga bukan? Inilah irama sirkadian atau irama biologis.

Kita memiliki sebuah jam biologis yang berdetak menentukan semua denyut kehidupan sepanjang hari. Kita bangun pagi, tidur di malam hari, dan lapar diwaktu tertentu. Jam biologis setelah seratusan tahun lebih sejak ditemukannya bola lampu ternyata masih berdetak sama.

Sebuah penelitian yang dilakukan Thomas Wehr membuktikan bahwa jam biologis kita masih berdetak sama dengan nenek moyang kita, yaitu tidur ketika cahaya memudar, terbangun untuk aktivitas selama 1-2 jam, dan akhirnya kembali tidur. Pola ini perlahan menghilang dari aktivitas kita sepanjang tahun.

Sejak penemuan bola lampu, manusia mulai menjelajah jauh mengalahkan kegelapan malam. Aktivitas tak lagi terbatas oleh gelap. Batasan siang dan malam memudar. Akibatnya detak jam biologis tergagap dengan jadwal aktivitas sosial yang terbatas.
Derap aktivitas modern yang memuja kekurangan tidur menimbulkan masalah tidur yang semakin serius. Diawali dengan “social jet-lag” berlanjut menjadi insomnia yang parah.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X