Cara Mona Ratuliu Tanamkan Toleransi pada Anak - Kompas.com

Cara Mona Ratuliu Tanamkan Toleransi pada Anak

Kompas.com - 16/01/2019, 07:30 WIB
Aktris dan presenter Mona Ratuliu dalam acara peluncuran kampanye Mari Bicara, Indonesia! di Museum Nasional, Selasa (15/1/2019).KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Aktris dan presenter Mona Ratuliu dalam acara peluncuran kampanye Mari Bicara, Indonesia! di Museum Nasional, Selasa (15/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai-nilai toleransi penting untuk ditanamkan pada anak sejak dini agar mereka siap menghadapi segala perbedaan yang ada di masyarakat ketika dewasa.

Aktris dan presenter Mona Ratuliu menyadari bahwa anak-anak akan meniru orangtuanya, karena itu ia menjadikan dirinya sebagai contoh penerapan toleransi.

"Toleransi kan bagaimana bisa menghargai orang lain dengan segala perbedaannya. Aku sebagai orangtua juga belajar menghargai mereka walaupun kita lebih tua. Harapannya dari situ mereka bisa menghargai yang lain," kata Mona dalam acara peluncuran kampanye "Mari Bicara, Indonesia!" di Museum Nasional, Selasa (15/1/2019).

Mona juga mengajarkan kepada anak bagaimana berkomunikasi yang baik, terutama menyampaikan unek-unek dan pendapat secara tepat.

Menurutnya, cara menyampaikan pendapat juga sangat berpengaruh dalam mengkomunikasikan perbedaan pendapat dengan orang lain.

Ia mencontohkan, situasi ketika adanya perdebatan panas di grup-grup chat What's App. Menurutnya, keributan yang terjadi sebetulnya seringkali bukan karena topik pembahasannya melainkan cara menyampaikan pendapat yang tidak tepat.

Ketika cara penyampaian pendapat dikomunikasikan dengan baik, emosi pun tidak mudah tersulut.

"Jadi makin ke sini makin belajar bagaimana menyampaikan pendapat supaya hangat dan pendapat jadi masukan. Karena yang terberat adalah menahan ego sendiri," tuturnya.

Istri aktor Indra Brasco itu juga sempat khawatir bagaimana agar anak-anaknya bisa bergaul dengan baik dengan teman-temannya yang berbeda budaya dan latar belakang.

Namun, Mona mengajarkan mereka dengan melihat ke dalam keluarganya sendiri, di mana sang ayah lahir di Manado dan besar di Medan, sementara sang ibu berlatarbelakang Sunda namun besar di Makassar. Keduanya bertemu di Makassar sebelum akhirnya pindah ke Jakarta.

Ayah Mona juga memiliki karakter bicara dengan suara keras, tegas dan blak-blakan, sedangkan ibunya cenderung lembut dan banyak berpikir sebelum menyampaikan sesuatu.

Mona bersama anak-anaknya tak jarang melihat adanya perdebatan dari dua figur tersebut yang sebetulnya hanya berputar pada masalah yang sama.

"Dari sith aku dan anak-anak belajar. Enggak usah jauh-jauh, oma-opa, ayah-bunda saja sudah beda dari cara bicaranya, bahasa tubuh, dan lain-lain, giman orang lain," tuturnya.

Baca juga: Mencairkan Perbedaan Pandangan Lewat Teh...

Dari diri sendiri

Pola belajar toleransi yang diterapkan Mona terhadap anak-anaknya dibenarkan oleh Pakar Ilmu Sosial, Budaya dan Komunikasi dari Universitas Indonesia, Dr. Devie Rachmawati, M. Hum., CPR.

Menurutnya, belajar toleransi dimulai dari diri sendiri, dalam hal ini orangtua, yang akan menjadi contoh bagi anak-anaknya.

Menerapkan cara meminta maaf kepada anak juga bisa menjadi cara lainnya untuk lebih menghargai orang lain.

Devie mencontohkan teladan orangtuanya yang meminta maaf jika melakukan kesalahan.

Kebiasaan tersebut kemudian terbawa hingga dirinya dewasa dan terbukti bisa membantu menyelesaikan masalah.

"Hal itu membuat saya menerapkan hal itu dan membuat saya bisa menyelesaikan masalah. Ini masalah kebiasaan. Bisa kok latihan, dibiasakan saja," tuturnya.


Terkini Lainnya


Close Ads X