Kompas.com - 21/01/2022, 14:35 WIB

KOMPAS.com - Kesuksesan Non Fungible Token (NFT) Ghozali membuat banyak orang beramai-ramai menawarkan aset digital berupa foto.

Tren ini muncul setelah akun OpenSea Ghozali Everyday sukses menjual foto selfie hingga bernilai miliaran rupiah.

Banyak orang berharap "keberuntungannya" bisa menular dengan menjual NFT serupa.

Jenis foto yang ditawarkan beragam mulai dari selfie, foto diri dengan KTP, makanan, tempat sampai koruptor Setya Novanto.

Baca juga: Demam NFT Ghozali, Bukan Semata soal Cuan

Firman Kurniawan Sujono, pakar komunikasi digital Universitas Indonesia menilai tren ini bisa membahayakan diri sendiri, khususnya berkaitan dengan keamanan data.

NFT berupa foto yang diperjualbelikan di pasar bebas bisa disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

Firman menjelaskan, foto merupakan sumber data yang sangat kaya dan lengkap sekaligus bisa diolah.

"Garis wajah, senyum, latar belakang kita berfoto, itu adalah data, semuanya," jelasnya dalam diskusi virtual, Kamis (20/01/2022).

Ia memberikan contoh, bagaimana Google atau gawai elektronik kita bisa mendeteksi identitas seseorang berdasarkan foto yang diunggah di media sosial.

"Contohnya kayak kita simpan foto di drive, lalu ketika foto bersama keluarga itu terdeteksi mana orangtua kita, saudara, sahabat,..itu contoh penggunaan data," terangnya lagi.

Dalam kasus NFT Ghozali, ia menilai ratusan foto yang berhasil dijual di pasar digital sebagai data yang amat masif.

Berbagai foto selama lima tahun belakangan itu merekam variasi ekspresi dan raut muka.

Selain itu, NFT itu juga merekam perubahan wajah yang terjadi selama beberapa tahun.

Baca juga: Ramai Digandrungi Selebritas, Apa Itu Sebenarnya NFT?

"Itu kalau mau dibikin prototipe wajahnya 10 tahun lagi juga bisa, datanya sangat lengkap," kata Firman.

Data itu bisa dipakai untuk berbagai hal negatif dan merugikan di kemudian hari.

Oleh sebab itu, akademisi ini berpendapat sebaiknya tidak perlu mengikuti tren dengan menawarkan NFT berupa foto.

Risikonya terlalu tinggi terkait keamanan data diri dan implikasinya di kemudian hari.

Selain itu, ada aspek legalitas yang harus dipertimbangkan jika kita asal memotret objek dan menjualnya sebagai NFT.

"Pasar itu tidak terduga, hal pribadi sebaiknya jangan dijual karena bisa dimanfaatkan untuk hal ilegal dan merugikan," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.