Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Mengajak Anak Belajar "Zero Waste", Bagaimana Caranya?

Bahkan, ada pula yang menyelenggarakan kelas online. Salah satunya adalah DK Wardhani, yang selalu berbagi melalui akun Instagram-nya, @dkwardhani.

DK Wardhani, yang biasa disapa Dini, adalah penulis buku anak yang juga founder Komunitas Sahabat Alam Cilik.

Berbagai video edukasi soal #zerowaste kerap dibagikannya.

Dini mengatakan, gerakan ini sudah dimulainya sejak sekitar 5 tahun lalu.

"Kurang lebih sih mungkin kalau memulainya sudah 4-5 tahun lalu. Saya memulai dengan menganggap ini sebagai sebuah eksperimen, jadi dijalani dengan senang," kata Dini saat dihubungi Kompas.com, Rabu (8/8/2018).

Menurut dia, penting untuk mengenalkan anak sejak dini belajar untuk meminimalisasi sampah. Namun, untuk memulainya, orangtua harus lebih dulu punya kesadaran soal itu.

"Jangan tumpukan harapan anak jika kitanya (orangtua) belum berubah," ujar Dini.

Dini membagikan tips yang diterapkannya selama ini untuk mengenalkan "zero waste" kepada anak-anak. Tips itu ia namakan ala "Ki Hajar Dewantara". Seperti apa?

1. Di depan memberi contoh

Orangtua harus memberikan contoh kepada anak-anaknya dalam meminimalkan sampah. Pada dasarnya, anak-anak akan mencontoh apa yang dilakukan oleh orangtua mereka.

2. Di tengah menjadi rekan diskusi

Orangtua mengajak anak-anak berpikir jangka panjang tentang dampak sampah.

Anak-anak diajak memahami konsekuensi dari tindakan mereka juga tindakan orang-orang di sekitar mereka.

3. Di belakang memberi support

Orangtua mempunyai peranan penting dalam memberikan dorongan dan motivasi untuk anak-anak dalam meminimalisasi sampah, terutama sampah plastik.

Selain itu, Dini mengatakan, orangtua perlu untuk mengajak anak memahami konsekuensi dari tindakan mereka.

"Semisal sedotan, plastik jajanan akan berakhir di mana. Apa yang terjadi jika mereka banyak menggunakan sedotan, senang jajan, dll," papar dia.

Sampahku tanggung jawabku

Dini mengatakan, dalam keluarganya, ia menerapkan prinsip "sampahku tanggung jawabku". Melalui cara ini, jika anak-anaknya jajan, mereka yang akan mengolah sampah tersebut.

Anak-anak membereskan, mencuci lalu mengeringkan sampah mereka sendiri, kemudian dibuat ecobrick.

Ecobrick adalah botol plastik yang dipenuhi hingga padat segala sampah yang tidak terurai.

Semakin sedikit isi ecobrick, semakin baik karena itu menandakan penggunaan sampah sudah berkurang.

Orangtua juga dapat mengajarkan anak-anak untuk merencanakan apa yang mereka beli, apa yang mereka butuhkan, atau apa yang anak-anak inginkan.

Saat bepergian, orangtua dapat memaksimalkan penggunaan tempat makan atau botol minum yang tidak sekali pakai.

https://lifestyle.kompas.com/read/2018/08/08/163203020/mengajak-anak-belajar-zero-waste-bagaimana-caranya

Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.