Salin Artikel

“Mom Shaming”, Perundungan Sesama Ibu

KOMPAS.com – Menjadi seorang ibu bisa jadi hal yang sulit, apalagi ditambah dengan komentar merendahkan dari sesama ibu lain pada banyak hal yang dilakukan.

Hujatan yang diterima oleh seorang ibu dikenal dengan istilah “mom shaming”. Pada dasarnya ini juga merupakan bentuk perundungan (bullying).

Dalam survei online yang dilakukan aplikasi untuk ibu hamil, Hallobumil pada September 2018 lalu terhadap 574 ibu terungkap, seluruh responden pernah mengalami mom-shaming.

Pola makan atau berat badan anak menjadi topik yang paling banyak dikritik. Disusul oleh topik mengenai pemberian ASI atau susu formula, dan metode ibu dalam menerapkan kedisiplinan.

Kebanyakan responden mengalami mom-shaming secara langsung dan dalam kondisi yang privat, misalnya oleh ibu atau mertua, selebihnya terjadi di media sosial.

Sebanyak 7 dari 10 responden mengaku bahwa kejadian mom-shaming ini semakin meningkat sejak adanya media sosial karena setiap orang bisa bersembunyi di balik akun anonim.

“Mom-shaming biasanya berbentuk nasihat dari orang yang (merasa) lebih berpengalaman. Namun cara penyampaian yang tidak tepat, menimbulkan kesan negatif dan membuat korban merasa buruk atau bersalah atas pilihan yang telat dibuatnya,” kata psikolog Dessy Ilsanty M.Psi.

Seperti semua jenis perundungan, mom shamming juga berpengaruh negatif pada kondisi mental seorang ibu.

Memang ada ibu yang kemudian berusaha menggali informasi tentang pola asuh dan kesehatan bayinya, tapi mayoritas merasa malu sehingga mereka merasa perlu untuk mengubah gaya asuh mereka.

Ada juga ibu yang merasakan tekanan mental. Padahal, persiapan kehamilan hingga periode pemberian ASI, dibutuhkan kondisi mental yang stabil dan tidak tertekan.

“Bagaimana cara melawan mom shamming? Jalani kehamilan yang sehat dan memiliki pemahaman bahwa kehamilan yang sehat berasal dari kesehatan fisik dan kesehatan mental yang baik,” kata dr. N. B. Donny A. M., Sp.OG.

Dessy menambahkan, ibu juga harus berpikiran positif dan bijaksana dalam merespon komentar orang lain yang bernada menjatuhkan.

“Fokus terhadap diri sendiri serta keluarga agar tidak mudah terganggu dengan komentar orang,” jelas Dessy.

Bisa ditiru

Bahaya lain dari mom shamming adalah korban berpotensi meniru atau melakukan hal yang sama kepada ibu lainnya. Untuk itu lingkaran setan ini harus diputus.

Hallobumil meluncurkan kampanye anti-mom shaming dalam bentuk edukasi kepada wanita melalui media digital.

“Latar belakang dari kampanye Mengerti Mama: Fight Mom Shaming ini lahir dari fakta bahwa setiap ibu akan memikul tanggung jawab yang berat dan sepanjang perjalanannya membutuhkan kesehatan fisik dan juga mental yang luar biasa,” jelas Mia Argianti selaku Head of Hallobumil.

Penyanyi dan model Vicky Shu, juga mendukung kampanye tersebut.

“Shaming sebenarnya hampir tidak dapat dihindari, tapi paling tidak kita sesama ibu harus saling menguatkan daripada menjatuhkan. Saling mendukung. Dengan begitu kita bisa bersama fight mom-shaming,” kata Vicky.

https://lifestyle.kompas.com/read/2019/10/18/064200620/mom-shaming-perundungan-sesama-ibu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.