"Ngalotek" di Bandung

Kompas.com - 29/11/2010, 09:37 WIB

KOMPAS.com — Suasana di Jalan Alkateri dekat persimpangan dengan Jalan ABC, Bandung, Jawa Barat, Minggu (21/11/2010), belum begitu ramai. Namun, sekitar pukul 10.30 salah satu sudut persimpangan di kedua jalan tersebut penuh kerumunan orang.

Mereka yang baru datang segera menghampiri Oom Komariah (44) yang sibuk melayani pesanan lotek. Sebagian dari pembeli yang datang terlebih dulu duduk di kursi plastik sambil menikmati lotek yang per porsinya berharga Rp 7.500.

Makin siang, makin ramai pula pembeli yang datang. Mereka yang tak kebagian tempat duduk bahkan tak keberatan menikmati lotek sambil berdiri. Apalagi, Oom mengemas lotek dalam bentuk yang mudah dipegang, yaitu dalam kertas berwarna coklat berlapis plastik yang dibentuk kerucut, menyerupai es krim.

Kemasan inilah yang menjadi salah satu keunikan Lotek Alkateri. Setelah makan, pembeli hanya perlu mengembalikan sendok kepada Oom yang dibantu anaknya, Dani (26), saat berjualan.

Keramaian menjelang dan saat makan siang ini sampai menutupi area trotoar. Maklum, sejak dijual ibu mertuanya yang meninggal dunia sebelum tahun 2000, Lotek Alkateri berlokasi di trotoar jalan yang didominasi toko peralatan elektronik.

Keramaian inilah yang menjadi tanda bagi mereka yang mencari lokasi Lotek Alkateri karena memang tidak ada papan atau spanduk sebagai petunjuk tempat. Atau, untuk mempermudah menemukan tempatnya, tanya saja pengemudi becak atau tukang parkir di sekitar Jalan ABC atau Jalan Alkateri, mereka pasti tahu.

Selain dibungkus kertas menyerupai es krim, keistimewaan lain Lotek Alkateri adalah daun pepaya dan pare yang ditambahkan dengan kangkung, taoge, kacang panjang, kol, dan labu yang direbus. Dani akan menambahkan dua jenis sayuran tersebut kalau pembeli memesan menu ”pahit” untuk diaduk dengan bumbu di atas cobek oleh ibunya.

”Awalnya saya hanya coba-coba menambahkan daun pepaya. Ternyata pembeli banyak yang suka,” kata Oom. Bahkan, tak jarang ada orang yang memesan lotek hanya dengan daun pepaya dan pare.

Di samping sayuran, seporsi Lotek Alkateri juga dilengkapi ketupat atau lontong, bahkan bisa juga nasi. Kerupuk ditumbuk kasar, lalu diaduk dengan sayuran, ketupat, dan bumbu kacang. Satu kerupuk lagi ditambahkan utuh di atas lotek.

Bumbu kental
Meski bahan dasar lotek yang sudah ada di Jalan Alkateri sejak tahun 1980-an ini sama seperti yang dipakai pedagang lotek yang berjualan dekat permukiman, Lotek Alkateri punya perbedaan di bumbu kacang. Racikan bumbunya kental, mirip selai kacang.

Ini karena Oom tidak menambahkan air saat mengaduk bumbu, yang sudah dibuat di rumah, dengan sayuran. Begitu pula ketika membuat sekitar 22 kilogram bumbu setiap paginya. Sebanyak 15 kg bumbu dipakai untuk berjualan di Jalan Alkateri, 7 kg lainnya untuk dipakai di cabang yang berada di Jalan Kalipah Apo. Di cabang yang sudah dibuka selama tiga tahun ini, pembeli dilayani oleh Engkos, suami Oom.

”Saat membuat bumbu, kacang tanah dan bumbu dapur lainnya dicampur kinca (gula merah yang sudah dicairkan), tidak ditambahkan lagi air. Makanya, loteknya tidak akan berair biarpun belinya dibungkus untuk dibawa ke rumah,” ujar Oom.

Halaman:


EditorDini

Close Ads X