Bulan Madu ala Jeng Reni dan Mas Ubay - Kompas.com

Bulan Madu ala Jeng Reni dan Mas Ubay

Kompas.com - 17/01/2013, 15:00 WIB

KOMPAS.com - Pasangan muda GKR Bendara (Jeng Reni) dan KPH Yudanegara (Achmad Ubaidillah/Mas Ubay) kembali ke Indonesia untuk berlibur, setelah merantau di Edinburgh, Skotlandia sejak Januari 2012 untuk melanjutkan studinya. Pasangan yang pernikahannya menyita perhatian publik dengan prosesi adat keraton Yogyakarta pada Oktober 2011 ini, memilih merantau demi pendidikan di Edinburgh selepas mengikat janji setia. Perantauan ini bagi Jeng Reni (26) dan Mas Ubay (31) pun menjadi cara berbulan madu.

"Long honey moon," ungkap "royal couple" ini saat berbincang bersama Kompas Female di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Berbulan madu ke luar negeri kerap menjadi pilihan pasangan muda untuk menikmati kebersamaan dan menciptakan intimasi juga keharmonisan pasangan menikah. Jeng Reni dan Mas Ubay pun memilih cara ini. Namun bulan madu mereka tak biasa. Tujuan bulan madu pun berbeda dari kebanyakan pasangan pada umumnya.

Keduanya memilih Edinburgh, Skotlandia, yang kaya budaya. Kota ini bukan semata dipilih untuk bermanja berduaan. Pasangan muda ini berbulan madu dalam waktu yang lebih panjang, lebih dari tiga tahun, karena harus menyelesaikan impian melanjutkan pendidikan.

Jika Jeng Reni memilih melanjutkan S2 Heritage Cultural di Napier University, Mas Ubay konsisten meningkatkan kemampuan diri sesuai pekerjaannya sebagai birokrat dengan melanjutkan S3 di bidang politik di Edinburgh University. Keduanya sepakat untuk merantau di negeri orang setelah menikah, menunda momongan, dan hidup mandiri tanpa bantuan siapa pun di negeri orang.

"Begitu lulus dan pulang dari Swiss, Reni sudah menyatakan keinginannya melanjutkan S2. Belum juga kami merencanakan pernikahan, Reni sudah mengungkapkan keinginannya menlanjutkan sekolah. Saya mendukungnya, keluarga juga mendukung, karena bagi saya sendiri ilmu penting yang bisa kita tinggalkan sebagai warisan nantinya." tutur Mas Ubay.

Tak mudah bagi pasangan yang haus ilmu ini untuk memulai hidup baru, bersama sebagai pasangan menikah di luar negeri sambil melanjutkan sekolah. Namun keduanya mampu melewati setahun pertama kehidupan pernikahan, di negeri orang, dengan berbagai tantangan yang didapati dari sekolahnya masing-masing,

"Lebih dari enam bulan pertama kami selalu bersama-sama, berduaan, tapi belakangan kami mulai memberi ruang privasi untuk masing-masing, terutama saat mulai suntuk karena urusan sekolah. Kami saling menghargai waktu untuk pribadi," tutur jeng Reni.

Berbulan madu dengan cara tak biasa ini bagi keduanya justru menningkatkan keharmonisan hubungan. Setelah berpacaran 4,5 tahun dan sempat menjalani hubungan jarak jauh enam bulan (Indonesia-Swiss), keduanya mengaku menikmati kebersamaan di negeri asing, berduaan.

Hidup bersama tanpa sanak saudara memberikan tantangan tersendiri bagi keduanya. Sikap saling menghargai dan komunikasi yang tak pernah putus, semakin menguatkan hubungan pasangan di tahun pertama pernikahannya ini. Apalagi perjalanan panjang pasangan menikah ini di luar negeri dianggapnya sebagai bulan madu yang selalu membawa kesan istimewa kepada pasangan yang sedang jatuh cinta.

Berlibur ke Yogyakarta

Meski sedang menikmati bulan madu, momen liburan sekolah dimanfaatkan keduanya untuk berkunjung ke kampung halaman di Yogyakarta. Liburan di Yogyakarta tak sepenuhnya untuk tujuan berleha-leha. Selain menghadiri prosesi Sekatenan bersama keluarga keraton, kepulangan Jeng Reni juga punya tujuan lain.

Jeng Reni meluangkan waktu satu bulan di Yogyakarta untuk mengumpulkan data terkait penyusunan tesisnya. Ia berencana kembali ke Edinburgh membawa sekumpulan data untuk mendukung tesisnya mengenai Peranan Keraton di dalam Pariwisata Yogyakarta.

"April sudah harus terkumpul, Juni wisuda," ungkap Jeng Reni, yang berencana menemani suami menyelesaikan S3 selepas ia kuliah, sambil merencanakan momongan.

Pasangan ini memang selalu menjalani berbagai hal dengan perencanaan matang. Seakan tak ingin menyia-nyiakan waktu, selalu  ada beberapa hal yang dilakukan sekaligus setiap kali melakukan perjalanan.

Bagi Jeng Reni, tesisnya nanti juga merupakan perwujudan impiannya untuk memajukan pariwisata Indonesia, khususnya Yogyakarta. Perempuan lulusan Manajemen Pariwisata dan Perhotelan di Swiss ini punya perhatian besar terhadap nasib museum di Indonesia.

Baginya, museum di Indonesia punya potensi besar menjadi tujuan pariwisata yang menyenangkan bagi anak-anak hingga dewasa. seperti yang kerap ia temui di Eropa juga kota budaya dan kota tua Edinburgh yang memberikan banyak inspirasi untuknya.

"Saya ingin kembali kepada keluarga, Yogya kota sejarah kota budaya, pariwisatanya perlu dikembangkan, mulai dari keluarga dari keraton. Lima tahun ke depan saya harap bisa membuat museum punya penampilan baru, bukan hanya di Yogya. Museum bukan lagi sesuatu yang angker, tidak lagi dipandang sebelah mata terutama bagi kaum muda. Museum bisa sangat edukasional, seperti di luar negeri, museum bisa memberikan edukasi, inspirasi juga fun," jelasnya.

Bulan madu sambil mengejar impian dalam dunia pendidikan, inilah gaya Jeng Reni dan mas Ubay menikmati kebersamaannya sebagai pasangan suami istri.

 


Editorwawa

Close Ads X