Tricia Sumarijanto: Mengejar "Passion" sebagai Guru

Kompas.com - 06/05/2013, 10:55 WIB
EditorDini

Kini, ia memperkenalkan angklung ke sekolah-sekolah di Washington DC dan Virginia, bekerja sama dengan KBRI dalam Program Wash Performing Arts Society (WPAS) dan melalui teman-teman orang Indonesia. Permintaan agar House of Angklung mengisi acara-acara resmi juga terus berdatangan.

Menemukan diri
Seluruh rangkaian peristiwa yang bukan kebetulan itu seperti membuka pintu bagi Tricia menemukan passion yang sudah lama terkubur. ”Dari kecil saya hanya ingin menjadi guru untuk anak-anak di pedalaman,” kenangnya.

Namun, perjalanan hidup membawanya melalui jalan melingkar. Padahal, sejak remaja, sulung dari empat bersaudara putri keluarga Michael Sumarijanto itu ditengarai pandai mengajari adik-adiknya, terutama matematika.

”Anak saya juga bilang, dia mudah mengerti kalau saya yang mengajar.” Ia melanjutkan, ”Musik punya filosofi sama dengan matematika.”

Pengalaman mengajar angklung—sambil terus belajar karakter alat musik itu—memberi peneguhan bahwa ia guru yang baik, sabar, dan pandai menjelaskan.

”Ditambah dukungan teman-teman dekat, saya menemukan the real me melalui angklung pada usia 39 tahun; sebagai guru yang suka mengajar anak-anak di kelas,” ungkapnya dengan tatapan jauh. ”Dengan dukungan mereka, ketakutan saya menguap.”

Pengalaman telah mengajari Tricia untuk selalu mendengarkan dan menghormati pendapat Anastasia Vania Putri Sudradjat (19). Putri semata wayangnya yang kuliah di Dickinson College, Carlisle, Pennsylvania, dengan fokus antropologi biologi itu suatu hari bilang, ”Saya ingin menjadi penari.”

”Terus terang, saya kaget,” kata Tricia, orangtua tunggal sejak beberapa tahun lalu. ”Ia punya potensi di bidang lain. Ia suka filsafat, pemikir sekaligus people person, tetapi saya juga tak bisa membayangkan Putri tidak menari. Saya ingin ia punya passion atas apa pun yang dia pilih dengan sadar dan cerdas. Saya terus mendampingi dalam fase kebingungannya saat ini.”

Filosofi dalam
Seraya mengajar angklung, Tricia memasukkan pengetahuan dan bahasa Indonesia lewat nyanyian anak-anak. Setiap kali ia juga menemukan hal baru sehingga kerja sukarela itu memberinya kekayaan batin tak ternilai.

Angklung yang mengandung filosofi tentang kebersamaan, harmoni, respek, dan non-ego bisa dimainkan siapa pun. ”Bahkan menjadi terapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus.”

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X