Kompas.com - 24/06/2013, 21:42 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Jauh sebelum Dian Sastrowardoyo ataupun Maudy Koesnaedi berjalan di atas karpet merah Festival Film Cannes, aktris senior Christine Hakim sudah lebih dulu hadir di sana dan menjadi anggota dewan juri bersama aktris Sharon Stone dan Michelle Yeoh. Selain menjadi juri, dia juga membawa misi khusus, yakni membagi-bagikan batik.

Are you a batik dealer?” tanya Sharon Stone kala itu, setengah bercanda. Lalu, batik-batik yang dibawa Christine pun dipuji dan dikagumi.

“Batik milik Iwan Tirta yang saya bawa saat itu, misinya untuk saya kenalkan sebagai karya anak bangsa di sana, karena bagi saya batik adalah produk dan roh Indonesia,” ujar aktris yang kini berusia 56 tahun itu, saat pembukaan pameran "Tribute to Iwan Tirta: Unveiling the Untold Story", di Museum Tekstil Jakarta, Jumat (21/6/2013) lalu.

Dari ceritanya tampak kalau Christine sangat mengagumi karya-karya batik sang maestro. Suatu kali bintang yang bermain dalam film Eat Pray Love itu pernah mewawancarai Iwan secara khusus untuk kepentingan pembuatan film dokumenter.

“Saya melihat Iwan dalam proses membatik seolah sedang meditasi, menarik dan menahan nafas untuk menuntaskan satu garis,” ujarnya berkisah.

Dengan demikian, ketika Iwan sudah tiada, ada sesuatu yang tak tergantikan walaupun ada pihak yang meniru dan membuat batik dengan corak yang sama. Karena, dalam setiap karyanya Iwan seolah meniupkan roh yang membuat karyanya berbeda. “Siapapun yang mengkopi karya Iwan tidak akan berhasil, karena nafas Iwan ada di karya itu,” ujarnya menegaskan.  

Peraih enam Piala Citra itu juga melihat banyak karya Iwan lainnya yang mengesankan, seperti batik untuk hiasan dinding. Meski mengaku tidak mengoleksi karya Iwan Tirta, saat ini Christine memiliki tujuh rancangan desainer bernama asli Nusjirwan Tirtaamidjaja itu. “Dari tujuh yang saya punya, lima di antaranya adalah hadiah dari Iwan,” ungkapnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hadiah itu diberikan dalam jeda waktu yang berbeda. Misalnya sewaktu sukses film Tjoet Nja’ Dien (1988) Iwan Tirta menghadiahkannya satu batik yang sederhana tapi langka, yakni motif poleng. Kemudian sewaktu film Daun di Atas Bantal (1998) beredar, Christine dihadiahi sarung batik. Hingga saat ini, Christine belum pernah lihat motif seperti itu.

"Kita semua pasti merindukan iwan, emoga apa yang dia telah buat dan diperjuangkan menjadi ibadah," ujar Christine sembari tersenyum.

 



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.