Mengenal Penyakit Langka Hipertensi Paru

Kompas.com - 12/05/2014, 11:52 WIB
Di balik wajahnya yang segar dan senyumnya yang cerah, siapa sangka Dhian Deliani (38) menderita penyakit yang kapan saja bisa mengancam jiwanya. KOMPAS.com/Unoviana Kartika S.Di balik wajahnya yang segar dan senyumnya yang cerah, siapa sangka Dhian Deliani (38) menderita penyakit yang kapan saja bisa mengancam jiwanya.
|
EditorLusia Kus Anna


KOMPAS.com -
Istilah hipertensi atau tekanan darah tinggi tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Hipertensi dikaitkan dengan ukuran tekanan darah di pembuluh darah. Tetapi, tak banyak orang yang mengetahui kondisi hipertensi paru.

Pada hipertensi paru atau hipertensi pulmonal, yang diukur adalah tekanan darah di arteri paru-paru. Orang yang menderita hipertensi paru akan mengalami susah bernapas, cepat lelah, sesak napas, pusing (perasaan mau pingsan), dan kaki menjadi bengkak.

Penyakit tersebut diderita oleh Dhian Deliani (38) sejak tahun 2006. Wanita yang berprofesi sebagai pustakawan ini pada awalnya tidak sadar ada kelainan pada jantungnya. Ia baru mengetahui kondisinya saat melakukan tes kesehatan untuk keperluan penerimaan pegawai negeri sipil. Ia tak menyangka ketika dokter menyebutkan ada kebocoran pada jantungnya.

Tak puas dengan hasil rontgen tersebut, ia pun melakukan pemeriksaan di tempat lain, termasuk tes jantung ekokardiografi dan katerisasi jantung. Sayangnya hasilnya tak berubah. Dhian dinyatakan mengalami atrial septal defect (ASD), atau tidak tertutupnya hubungan antara atrium kanan dan atrium kiri oleh katup jantung. Bukan hanya itu, dokter juga menemukan adanya hipertensi paru.

"Saya sempat menolak diagnosis itu karena saya tidak merasa ada yang salah pada diri saya. Selama 30 tahun saya hidup tidak pernah ada gejala apa-apa," katanya.

Penyangkalan tersebut membuat ibu dua anak ini tidak melakukan pengobatan apa pun sampai setahun kemudian. Namun, kondisi fisiknya terus mengalami penurunan. Pada saat itu ia makin sering kelelahan dan sesak napas.

"Sebenarnya sudah dari dulu saya sering cepat merasa lelah, tetapi tidak dirasa," ungkap mantan aktivis mahasiswa ini.

Meski tidak mencari pengobatan, Dhian berusaha mencari tahu lebih banyak soal penyakit yang dideritanya. Namun penyakitnya termasuk jarang, ia kesulitan mendapatkan banyak informasi.

Akhirnya ia menemukan forum di internet yang berasal dari Amerika Serikat. Melalui forum tersebut, ia dipertemukannya dengan Indri, salah satu penderita hipertensi pulmonal lainnya di Indonesia. Sejak bertemu dengan Indri, Dhian akhirnya mulai mencari pengobatan, di samping karena kondisinya yang semakin membutuhkan pertolongan.

Mulai saat itulah, Dhian mulai mengonsumsi obat-obatan pelebar pembuluh darah, seperti obat golongan sildenafil. Hingga kini, ada tiga jenis obat pelebar pembuluh darah yang ia minum. Dalam sebulan, pustakawan ini perlu merogoh kocek hingga Rp 4,5 juta.

Karena perlu mengeluarkan biaya cukup besar untuk pengobatannya, Dhian memutuskan untuk tetap bekerja. Meskipun dalam sebulan, pasti ada beberapa hari yang ia gunakan untuk beristirahat total. Biasanya itu terjadi saat ia merasa sangat kelelahan dan terjadi bengkak di dadanya.

Dhian menyadari, perjuangan melawan hipertensi pulmonal tidak mudah. Ia pun bersama Indri berinisiatif membentuk sebuah wadah bagi penderita penyakit yang sama. Sejak 2012 dibentuklah Asosiasi Hipertensi Pulmonal Indonesia yang bertujuan untuk saling menguatkan sesama penderita. Di seluruh dunia, penyakit ini diderita 15 per satu juta penduduk.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X