Melawan Mitos Susah Kenyang kalau Belum Makan Nasi

Kompas.com - 20/07/2017, 08:03 WIB
Seorang wanita Jawa Tondano di Yosonegoro mengisi bambu yang dilapisi dengan daun pisang muda dengan beras yang telah dicampur dengan santan, bawang putih dan jahe. KOMPAS.COM/ROSYID AZHARSeorang wanita Jawa Tondano di Yosonegoro mengisi bambu yang dilapisi dengan daun pisang muda dengan beras yang telah dicampur dengan santan, bawang putih dan jahe.
|
EditorSri Noviyanti

KOMPAS.com – Di Indonesia, sebagian besar orang punya pola pikiran yang sama tentang nasi dan rasa kenyang. “Rasanya belum kenyang kalau belum makan nasi,” lebih kurang begitu.

Kutipan itu makin nyaring dan dibuktikan oleh orang-orang Indonesia yang hampir selalu menyatakan diri belum makan karena memang belum mengonsumsi nasi pada waktu-waktu tertentu.

Ketergantungan terhadap nasi juga menghinggapi orang-orang Indonesia yang kebetulan sedang ada urusan di luar negeri, tempat nasi bukan menjadi bahan makanan pokok. Ada saja yang berujar, perut rasanya tidak kenyang kalau belum diisi nasi.

Begitu juga dengan turis atau pendatang yang pernah menginjakkan kaki di Indonesia. Nasi seakan membuat rindu.

Barack Obama, misalnya, punya riwayat tinggal di bumi pertiwi terhitung 1967-1971. Masih ingatkah Anda soal ujarannya ketika ia masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) dan mengunjungi Indonesia pada 2010?

Berkali-kali Obama berujar terima kasih atas jamuan nasi goreng yang menjadi salah satu menunya.

Nasi goreng bukan sembarang menu yang tersaji, melainkan sudah menjadi harapan Obama sebelum sampai di Indonesia. Pada kunjungan Presiden Republik Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono ke AS masa itu, Obama mengemukakan rindunya pada menu asli Indonesia yang berbahan dasar beras tersebut.

Cerita di balik nasi

Pada dasarnya, perasaan belum kenyang kalau belum makan nasi adalah tanda bahwa seseorang sudah ketergantungan. Apa yang membuat nasi bisa seperti itu?

Penjelasan secara ilmiah pernah diungkapkan oleh para peneliti dari Boston Children’s Hospital di Amerika pada 2013. Menurut temuan tim, makanan yang memiliki indeks glikemik—zat karbohidrat dalam gula darah—tinggi berpotensi menimbulkan adiksi.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber WebMD,WEBMD
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X