Kompas.com - 30/08/2017, 16:00 WIB
|
EditorLusia Kus Anna

4. Berkata "tidak" adalah hal baik
Anak bisa menjadi tantrum karena orangtuanya berkata "tidak" pada permintaannya. Itu adalah hal yang baik. Berkata "tidak" akan memberi anak batasan tentang perilaku yang baik dan tidak. Berani mengatakan "tidak" juga berarti kita tidak takut menghadapi reaksi anak dan emosinya.

5. Anak merasa nyaman mengungkapkan perasaannya
Walau menghadapi anak yang tantrum sering dianggap menyebalkan, tapi tantrum adalah hadiah. Pada kebanyakan kasus, tantrum adalah ekspresinya terhadap kata "tidak" dari orangtuanya. Anda bisa tetap tegas dan membantunya menghadapi rasa kecewa. Dengan demikian anak akan merasakan cinta dan hubungan yang memang dibutuhkannya. Membiarkan anak mengalami tantrum bisa menjadi hadiah agar ia bisa melepaskan frustasinya.

6. Membuat lebih dekat
Mungkin terasa tidak mungkin. Tapi perhatikan, ketika anak sedang mengamuk dan meminta orangtuanya pergi, sebenarnya ia sangat menghargai jika Anda tetap di sampingnya. Tidak perlu mengucapkan banyak kata untuk menghibur, tapi sampaikan beberapa kata untuk membuatnya tenang. Hindari berkata kasar atau melakukan kekerasan fisik agar ia kembali tenang. Dengan demikian anak akan merasa ia diterima apa adanya dan itu membuatnya lebih dekat dengan orangtuanya.

7. Mengatur emosi
Terkadang emosi anak keluar dalam berbagai cara, misalnya agresi, sulit berbagi, atau menolak melakukan perintah sederhana seperti menyikat gigi. Ini adalah beberapa tanda si kecil sedang kesulitan dengan emosinya. Mengalami ledakan emosi seperti tantrum membantu anak melepaskan perasaan sehingga ia pun bisa memahami dirinya.

8. Menyembuhkan bagi orangtua
Saat kita menghadapi anak yang tantrum, terkadang kita akan mengingat masa kecil. Masa ketika orangtua mungkin tidak mendengarkan atau memberi empati yang kita butuhkan.

Menjadi orangtua terkadang bisa menjadi proses penyembuhan pada emosi kita sendiri. Ini adalah kesempatan untuk mendengarkan diri sendiri dan memberi dukungan.

Setelah menghadapi momen emosional dengan anak, cobalah lakukan kegiatan yang membuat rileks, seperti ngobrol dengan sahabat, tertawa, atau bahkan menangis. Sikap tenang membutuhkan latihan, tetapi saat kita mampu melakukannya, kita sebenarnya mengubah "jalan" di otak agar menjadi tenang dan damai.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Parents
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.